Close Menu
    What's Hot

    Suku Bunga AS Naik Lagi Dampaknya ke RI

    09-10-2026 - 13.06

    Waspada Anak Muda Terjerat Pinjol

    09-10-2026 - 13.02

    Bank Mega Bidik Target Penjualan Wisata Fantastis

    09-10-2026 - 10.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Suku Bunga AS Naik Lagi Dampaknya ke RI
    • Waspada Anak Muda Terjerat Pinjol
    • Bank Mega Bidik Target Penjualan Wisata Fantastis
    • Saham JARR Anjlok Usai Gadai ke Mandiri
    • IHSG Merah Pekat Asing Malah Borong Saham
    • Pasar Saham Merah Membara Asing Kabur
    • IHSG Terjun Bebas ke Level 6.083
    • IHSG Merosot Tajam Hari Ini
    Jumat, 9 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Rupiah Terpuruk Belajar dari Tetangga
    Pangan

    Rupiah Terpuruk Belajar dari Tetangga

    03-10-2026 - 18.022 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Kondisi pasar keuangan domestik kembali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada pembukaan perdagangan Kamis (01/10). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merosot ke zona merah, menyentuh level 6.058. Tekanan ini tidak hanya menghantam pasar modal, tetapi juga merambat pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini harus berjuang keras menembus angka Rp 17.920 per Dolar AS.

    Fenomena pelemahan mata uang Garuda ini bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan analisis mendalam, terdapat tekanan hebat dari faktor eksternal yang sulit dibendung oleh kebijakan domestik dalam jangka pendek. Elvan Chandra Widyatama, seorang analis forex ternama, mengungkapkan bahwa penguatan indeks Dolar AS menjadi salah satu pemicu utama yang membuat mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, kehilangan daya saingnya.

    Rupiah Terpuruk Belajar dari Tetangga
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Selain dominasi Dolar AS, gejolak harga komoditas energi global turut memperkeruh suasana. Lonjakan harga minyak mentah dunia memberikan tekanan tambahan pada neraca perdagangan dan stabilitas moneter. Kondisi ini menciptakan efek domino yang membuat investor cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset yang dianggap lebih aman (safe haven).

    Menariknya, jika kita menoleh ke negara tetangga, terdapat dinamika yang berbeda. Malaysia dengan Ringgit-nya dan Singapura dengan Dolar Singapura-nya menunjukkan ketahanan yang cukup stabil di tengah badai ekonomi global. Hal ini memicu pertanyaan besar bagi otoritas moneter Indonesia: apa yang sebenarnya dilakukan oleh Malaysia dan Singapura sehingga mata uang mereka tidak terpuruk sedalam Rupiah?

    Para ahli menilai bahwa Indonesia memiliki "pekerjaan rumah" atau PR besar untuk memperkuat fundamental ekonomi agar Rupiah tidak terus menjadi korban volatilitas global. Salah satu poin krusial adalah bagaimana menjaga stabilitas aliran modal masuk dan memastikan cadangan devisa tetap kuat untuk melakukan intervensi pasar jika diperlukan.

    Selain itu, ketergantungan pada impor energi yang tinggi membuat Rupiah sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Jika Indonesia mampu memperkuat kemandirian energi dan memperbaiki struktur neraca berjalan, maka daya tahan Rupiah terhadap guncangan eksternal akan meningkat secara signifikan.

    Ke depan, penguatan nilai tukar tidak bisa hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia semata. Diperlukan sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan stabilitas moneter untuk menciptakan iklim investasi yang menarik. Dengan belajar dari stabilitas mata uang negara tetangga, Indonesia diharapkan dapat merumuskan strategi yang lebih tangguh guna menjaga marwah Rupiah di kancah ekonomi internasional.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Suku Bunga AS Naik Lagi Dampaknya ke RI

    09-10-2026 - 13.06

    Waspada Anak Muda Terjerat Pinjol

    09-10-2026 - 13.02

    Bank Mega Bidik Target Penjualan Wisata Fantastis

    09-10-2026 - 10.06

    Saham JARR Anjlok Usai Gadai ke Mandiri

    09-10-2026 - 10.02

    IHSG Merah Pekat Asing Malah Borong Saham

    09-10-2026 - 08.06

    Pasar Saham Merah Membara Asing Kabur

    09-10-2026 - 08.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Suku Bunga AS Naik Lagi Dampaknya ke RI

    agroplus.co.id – Dinamika ekonomi global kini tengah berada dalam fase yang penuh ketidakpastian. Para pelaku…

    Waspada Anak Muda Terjerat Pinjol

    09-10-2026 - 13.02

    Bank Mega Bidik Target Penjualan Wisata Fantastis

    09-10-2026 - 10.06

    Saham JARR Anjlok Usai Gadai ke Mandiri

    09-10-2026 - 10.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.