agroplus.co.id – Masa depan nilai tukar rupiah kini tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Sejumlah pakar ekonomi memberikan peringatan serius mengenai potensi pelemahan mata uang Garuda yang bisa saja menembus level psikologis baru, yakni Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menjadi perhatian utama mengingat volatilitas pasar global yang masih sangat tinggi dan tidak menentu.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa skenario rupiah melemah hingga ke angka Rp18.200 per dolar AS bukanlah hal yang mustahil untuk terjadi. Menurutnya, meskipun angka tersebut merupakan skenario tekanan, namun probabilitasnya cukup besar jika tekanan dari pasar global terus menghantam ekonomi domestik tanpa ada jeda.

"Rupiah masih memiliki peluang untuk bergerak menuju level Rp18.200 per dolar AS. Jika kita hitung, jarak dari Rp18.000 ke Rp18.200 itu hanya sekitar 1 persen lebih lemah. Jadi, level tersebut sangat mungkin tersentuh apabila tekanan global masih terus menghantui pasar," ujar Josua dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa (29/9/2026).
Josua kemudian membedah tiga faktor utama yang menjadi pemicu utama jika rupiah mengalami depresiasi lebih dalam. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan jika terjadi secara bersamaan, maka tekanan terhadap rupiah akan menjadi sangat masif.
Pertama, fluktuasi harga minyak dunia. Jika harga minyak global tetap bertahan di level tinggi, yakni di atas US$ 100 per barel, hal ini akan membebani neraca perdagangan dan meningkatkan kebutuhan valuta asing. Kedua, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang tetap bertahan di atas angka 5 persen. Kondisi ini membuat investor cenderung menarik modalnya dari negara berkembang untuk kembali ke aset aman (safe haven) di Amerika Serikat. Ketiga, adanya arus modal keluar (outflow) dari investor asing di pasar keuangan Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Center of Macroeconomics and Finance di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, juga memperingatkan bahwa peluang rupiah menyentuh angka Rp18.200 terbuka lebar dalam waktu dekat. Ia menekankan bahwa jarak antara Rp18.000 dan Rp18.200 sangatlah tipis, yakni hanya sekitar 1,1 persen, sehingga ini merupakan skenario risiko yang wajib diantisipasi oleh pelaku pasar dan pemerintah.
"Potensi rupiah menembus level tersebut sangat terbuka lebar, terutama jika penguatan dolar AS, arus modal keluar, serta tingginya kebutuhan valuta asing terus berlanjut secara konsisten," jelas Rizal.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah sebenarnya sempat menunjukkan sedikit perlawanan dengan mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.960 per dolar AS, atau menguat tipis 0,03%. Namun, penguatan ini sangat kecil jika dibandingkan dengan volatilitas sebelumnya, di mana pada hari sebelumnya rupiah sempat melemah 0,48% ke level Rp17.965 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya stabilisasi, tekanan eksternal tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
