agroplus.co.id – Mata uang Garuda menunjukkan sinyal positif pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (2/10/2026). Setelah sempat mengalami tekanan pada sesi perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah kini berbalik arah dan berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp17.925 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,08% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Kamis (1/10/2026) yang berada di level Rp17.940 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, terpantau berada di posisi 102,107 pada pukul 09.00 WIB.

Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini diprediksi akan sangat dinamis karena dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan faktor eksternal yang cukup kompleks. Dari sisi dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati sejumlah isu krusial, mulai dari wacana perombakan atau reshuffle kabinet hingga implementasi kebijakan short selling. Selain itu, pasar juga sedang mengolah data-data ekonomi penting yang telah dirilis, seperti angka manufaktur, kondisi neraca perdagangan, serta tingkat inflasi nasional.
Kondisi pasar obligasi domestik juga memberikan gambaran mengenai dinamika pasar saat ini. Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,3 basis poin menjadi 7,159% pada perdagangan Kamis kemarin, naik dari posisi sebelumnya di angka 7,106%. Kenaikan imbal hasil ini secara otomatis menandakan adanya penurunan harga pada obligasi pemerintah tenor 10 tahun tersebut.
Dari kancah internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah masih dibayangi oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 5,34%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2002, sebelum akhirnya sedikit melandai ke kisaran 5,26%. Tingginya imbal hasil obligasi AS ini cenderung meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, yang berpotensi menekan mata uang negara-negara berkembang.
Selain itu, para investor global tengah menanti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk klaim pengangguran, indeks manufaktur ISM, tingkat pengangguran, hingga data non-farm payrolls. Data-data tersebut akan menjadi kunci untuk memprediksi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menambah volatilitas pasar. Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan lebih dari US$4 per barel akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan global. Hal ini dipicu oleh kabar pengiriman tambahan pasukan AS ke kawasan tersebut serta kebijakan China yang menghentikan ekspor produk minyak ke luar wilayah Hong Kong dan Makau. Ditambah lagi dengan larangan ekspor diesel oleh Rusia hingga Oktober mendatang, risiko kelangkaan bahan bakar global kini menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai oleh pasar keuangan dunia.
