Agroplus – Kekhawatiran melanda pasar keuangan Indonesia hari ini seiring dengan terus melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) pun tak tinggal diam, segera memberikan penjelasan komprehensif terkait fenomena yang menekan mata uang Garuda ini.
Berdasarkan pantauan data Refinitiv pada pukul 13.08 WIB, mata uang kebanggaan kita, Rupiah, tercatat terdepresiasi hingga menyentuh angka Rp17.830 per Dolar AS, menunjukkan pelemahan sebesar 0,56%. Angka ini tentu menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar dan masyarakat luas.

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menjelaskan bahwa tekanan yang dialami Rupiah ini sebagian besar berasal dari faktor eksternal. "Pelemahan nilai tukar Rupiah masih sangat dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran akan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah," terang Erwin dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/9/2026). Ia menambahkan, situasi ini secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global yang konsisten bertahan di atas level USD100 per barel.
Meskipun akar masalahnya bersemi di ranah global, Erwin menegaskan bahwa gejolak ini tidak luput dari perhatian pelaku pasar keuangan domestik. Mereka melihat potensi peningkatan risiko inflasi global serta tekanan pada proyeksi fiskal negara sebagai imbasnya. Tak hanya itu, "Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga diperparah oleh tingginya kebutuhan valuta asing dari para importir, serta adanya arus keluar dana investasi dari portofolio aset-aset domestik," imbuh Erwin, merinci faktor-faktor yang turut memperkeruh suasana.
Menanggapi kondisi ini, Erwin memastikan bahwa Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Pihaknya berkomitmen penuh untuk terus aktif di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan optimal dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonominya.
Lebih lanjut, BI akan mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui strategi operasi moneter yang pro-pasar. Selain itu, efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas akan diperkuat melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai, yang dilengkapi dengan insentif menarik.
Intervensi pasar juga akan terus dilancarkan secara konsisten dan berkesinambungan. Ini mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Tak hanya itu, BI juga akan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung stabilitas.
Di sisi lain, koordinasi dan komunikasi intensif dengan korporasi serta para pelaku pasar akan terus digalakkan. Tujuannya adalah untuk mendorong masuknya arus modal asing dengan mengoptimalkan berbagai insentif yang telah disiapkan, serta mendiversifikasi permintaan valuta asing melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Erwin menutup penjelasannya dengan nada optimis, menegaskan bahwa secara umum, pergerakan Rupiah masih menunjukkan keselarasan dengan mata uang di kawasan regional. Bahkan, secara quarter-to-date (QTD), Rupiah tercatat menguat sebesar 0,37%. "Posisi cadangan devisa kita juga menunjukkan peningkatan yang solid, mencapai level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," pungkasnya, memberikan gambaran bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah gejolak global.
