agroplus.co.id – Langkah besar tengah dipersiapkan oleh pemerintah untuk merombak wajah industri asuransi milik negara. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kini tengah bergerak cepat melakukan percepatan program perampingan atau streamlining di seluruh jajaran perusahaan pelat merah. Fokus utama dari kebijakan ini adalah melakukan konsolidasi besar-besaran pada sektor asuransi guna menciptakan struktur bisnis yang lebih efisien dan kompetitif.
Kepala BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses penggabungan atau merger perusahaan asuransi BUMN ini ditargetkan rampung pada penghujung tahun ini. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan seluruh entitas asuransi milik negara memiliki arah bisnis yang lebih jelas dan tidak saling tumpang tindih.

"Proses merger asuransi saat ini sedang berjalan dan kami menargetkan seluruh rangkaiannya sudah selesai pada akhir tahun ini," ujar Dony saat memberikan keterangan kepada media di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Rencana ambisius ini akan mengubah peta kekuatan industri asuransi nasional. Danantara berencana menyatukan 15 perusahaan asuransi pelat merah menjadi hanya tiga entitas besar saja. Ketiga perusahaan hasil merger tersebut nantinya tidak akan bergerak secara umum, melainkan akan memiliki spesialisasi yang sangat spesifik agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Dony menjelaskan bahwa pembagian spesialisasi tersebut mencakup tiga sektor utama. Pertama adalah fokus pada asuransi jiwa (life insurance), kedua pada asuransi umum (general insurance), dan yang ketiga adalah asuransi kredit (credit insurance). Dengan pembagian ini, diharapkan setiap perusahaan hasil merger dapat menjadi pemimpin pasar di segmennya masing-masing dengan manajemen risiko yang lebih tajam.
Tidak hanya menyasar asuransi konvensional, kebijakan konsolidasi ini juga akan menyentuh sektor asuransi syariah. Pemerintah ingin memastikan bahwa layanan berbasis syariah juga memiliki wadah yang kuat dan terintegrasi. "Untuk sektor syariah pun akan kami perlakukan sama. Kami akan melakukan merger sehingga nantinya akan ada entitas asuransi yang khusus mengelola lini syariah," tambah Dony.
Sebagai informasi, saat ini sektor asuransi dan penjaminan BUMN sebagian besar berada di bawah naungan Indonesia Financial Group (IFG) Holding. IFG merupakan holding yang membawahi berbagai perusahaan strategis seperti Jasa Raharja, Jamkrindo, Askrindo, hingga Jasindo. Selain itu, di sektor asuransi jiwa dan kesehatan, terdapat IFG Life yang menjadi salah satu pemain kunci.
Melalui langkah merger ini, pemerintah berharap efisiensi operasional dapat meningkat drastis, modal perusahaan menjadi lebih kuat, dan pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara lebih profesional dan terpadu. Transformasi ini menjadi sinyal kuat bahwa negara ingin membangun benteng keuangan yang lebih kokoh melalui penguatan sektor asuransi nasional.
