Agroplus – Di tengah riuhnya tantangan ekonomi dan kontraksi yang melanda sektor asuransi umum, PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk, atau yang kini dikenal sebagai Oona Insurance Indonesia (ABDA), justru berhasil "memanen" hasil yang luar biasa. Perusahaan ini mencatatkan pertumbuhan premi bruto (Gross Written Premium/GWP) sebesar 40% secara tahunan pada semester I-2026, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.
Angka-angka berbicara. Laporan keuangan per 30 Juni 2026 menunjukkan hasil jasa asuransi bersih Oona Insurance melonjak signifikan menjadi Rp92,35 miliar, jauh melampaui Rp63,83 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih mengesankan lagi, laba bersih Oona meroket hingga 55%. Lonjakan ini terjadi saat industri asuransi umum nasional justru mengalami kontraksi sekitar 2% pada periode yang sama. Ini seperti menemukan oase di tengah gurun, di mana Oona berhasil tumbuh subur saat yang lain kesulitan.

Abhishek Bhatia, Founder dan Group Chief Executive Officer Oona Insurance, menjelaskan kunci keberhasilan ini. "Kinerja ini membuktikan kemampuan Oona dalam mencatat pertumbuhan yang menguntungkan melalui disiplin underwriting yang ketat, diversifikasi kanal distribusi yang cerdas, serta investasi berkelanjutan pada teknologi," ujarnya, seolah menjelaskan bagaimana mereka "mengolah lahan" bisnis dengan strategi matang dan benih unggul.
Dalam waktu kurang dari empat tahun sejak menjejakkan kaki di Indonesia, Oona telah mengukuhkan posisinya di jajaran 10 besar perusahaan asuransi kendaraan bermotor berdasarkan GWP. Tak hanya itu, mereka juga melesat sembilan peringkat, menjadi perusahaan asuransi umum terbesar ke-23 di Indonesia berdasarkan GWP. "Empat tahun terakhir adalah masa transformasi total bagi kami di Indonesia, mulai dari modernisasi teknologi, penguatan underwriting, perluasan distribusi, hingga restrukturisasi bisnis secara keseluruhan," tambah Bhatia dalam keterangan resminya, Jumat, (21/8/2026).
Pertumbuhan Oona tak lepas dari strategi distribusi yang beragam, layaknya menyebar benih di berbagai jenis tanah untuk memastikan hasil panen maksimal. Kemitraan dengan industri otomotif, bank, broker, agen, mitra digital, hingga kanal direct-to-consumer menjadi pilar utamanya. Melalui kemitraan digital, solusi asuransi Oona bahkan terintegrasi dengan berbagai layanan populer seperti dompet digital, aplikasi ride-hailing, dan platform perjalanan, memudahkan pelanggan mengakses perlindungan kapan saja dan di mana saja.
Vincent C. Soegiarto, President Director Oona Insurance Indonesia, menegaskan bahwa transformasi ini adalah hasil eksekusi yang konsisten, bukan sekadar inisiatif tunggal yang sesaat. "Kami terus memperkuat kemitraan, memperluas portofolio produk, berinvestasi dalam teknologi, serta menjaga disiplin underwriting di tengah berbagai kondisi pasar. Pendekatan ini memungkinkan kami untuk terus mencatat kinerja di atas pasar, sekaligus membangun bisnis yang lebih kuat dan tangguh untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya di Indonesia," jelas Vincent, menggambarkan bagaimana mereka "merawat tanaman" bisnis agar terus berbuah lebat dan tahan banting.
Melihat ke depan, Indonesia menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang yang cerah. Bertambahnya aset yang dimiliki masyarakat dan terus berkembangnya dunia usaha menjadi pupuk bagi industri asuransi. Apalagi, Indonesia masih menjadi salah satu pasar dengan tingkat penetrasi asuransi yang relatif rendah di Asia, menyisakan ruang luas untuk "digarap" dan dikembangkan.
Sebagai gambaran kinerja industri secara lebih luas, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), premi asuransi jiwa tumbuh 8,40% yoy, mencapai Rp94,83 triliun. Angka ini menandakan potensi pasar yang besar secara keseluruhan, di mana Oona Insurance telah menunjukkan kemampuannya untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang pesat.
