agroplus.co.id – Sejarah mencatat salah satu pencapaian paling fenomenal dalam ekonomi Indonesia terjadi di masa kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. Di tengah badai krisis moneter yang menghantam hebat pada tahun 1998, nilai tukar rupiah yang sempat terjun bebas hingga menyentuh angka Rp16.800 per dolar AS, secara mengejutkan berhasil ditarik kembali ke level Rp6.550. Keberhasilan ini seolah menjadi mukjizat ekonomi yang membuktikan ketangguhan kepemimpinan seorang teknokrat di tengah ketidakpastian global.
Namun, jalan menuju stabilitas tersebut tidaklah mulus. Saat pertama kali menjabat menggantikan Soeharto yang telah berkuasa selama tiga dekade, Habibie tidak langsung disambut dengan optimisme. Banyak pihak meragukan kemampuannya karena latar belakangnya yang merupakan seorang ahli teknologi penerbangan, bukan seorang ekonom murni. Bahkan, tokoh dunia seperti mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, sempat melontarkan keraguan bahwa kepemimpinan Habibie justru akan membuat rupiah semakin terpuruk.

Meski dihantam skeptisisme, Habibie membuktikan bahwa kecerdasan teknokratisnya mampu merumuskan solusi ekonomi yang presisi. Setidaknya, ada tiga strategi fundamental yang ia jalankan untuk memulihkan martabat rupiah.
Pertama adalah langkah berani dalam melakukan restrukturisasi sektor perbankan. Pada era Orde Baru, pendirian bank sangatlah mudah, namun tidak dibarengi dengan manajemen risiko yang mumpuni. Akibatnya, terjadi penarikan dana besar-besaran oleh nasabah yang meruntuhkan stabilitas keuangan. Habibie mengambil langkah tegas dengan melakukan penggabungan empat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri. Selain itu, ia mencetuskan UU Nomor 23 Tahun 1999 yang memberikan independensi penuh kepada Bank Indonesia. Langkah ini krusial agar kebijakan moneter tidak lagi menjadi alat politik pemerintah, melainkan murni untuk menjaga stabilitas mata uang.
Kedua, Habibie menerapkan kebijakan moneter yang sangat ketat. Ia menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat suku bunga yang tinggi. Strategi ini bertujuan untuk menarik kembali minat masyarakat agar menabung di bank, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat dapat terkendali. Hasilnya sangat signifikan; suku bunga yang sempat melonjak hingga 60 persen berhasil ditekan hingga ke angka belasan persen, yang secara otomatis mengembalikan kepercayaan publik terhadap sistem perbankan nasional.
Ketiga, ia sangat memperhatikan daya beli masyarakat melalui pengendalian harga bahan pokok. Habibie memahami bahwa stabilitas ekonomi tidak akan berarti jika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Oleh karena itu, ia menjaga agar harga listrik dan BBM bersubsidi tetap stabil agar harga pangan tidak melambung tinggi.
Menariknya, di tengah kebijakan ekonomi yang kaku, Habibie juga menyentuh sisi spiritual dan sosial. Ia sempat memberikan imbauan agar masyarakat menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk penghematan di masa krisis. Meski sempat menuai pro dan kontra, kombinasi antara kebijakan teknis yang tajam dan pendekatan humanis inilah yang akhirnya berhasil membawa Indonesia keluar dari jurang kehancuran ekonomi.
