agroplus.co.id – Dinamika ekonomi sebuah negara sering kali dapat dibaca melalui pergerakan kendaraan di jalan raya. Menyadari potensi besar tersebut, PT Jasa Marga (Persero) Tbk resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait integrasi dan pertukaran data statistik lalu lintas jalan tol. Langkah besar ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai kondisi ekonomi dan mobilitas masyarakat di Indonesia.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan upaya perusahaan untuk memperkuat pemanfaatan data statistik dalam menganalisis berbagai aspek penting. Menurutnya, data lalu lintas bukan sekadar angka kendaraan yang melintas, melainkan indikator vital yang mencerminkan dinamika transportasi, aktivitas logistik, hingga pergerakan ekonomi di berbagai wilayah.

"Informasi statistik yang akurat dan terintegrasi akan sangat membantu kami dalam memahami perkembangan ekonomi wilayah, pergerakan sektor transportasi, serta keterkaitannya dengan aktivitas logistik dan operasional jalan tol secara keseluruhan," ujar Rivan dalam keterangan resminya.
Dalam teknis pelaksanaannya, kedua institusi ini akan membangun mekanisme pertukaran data yang canggih menggunakan teknologi Application Programming Interface (API). Dengan memanfaatkan platform digital masing-masing, integrasi ini akan memungkinkan aliran data berjalan secara otomatis dan terstruktur. Selain itu, akan ada sistem pemantauan serta evaluasi berkala guna memastikan kualitas data yang dipertukarkan tetap terjaga dan berkelanjutan.
Rivan juga menambahkan bahwa integrasi ini akan memperkuat kapabilitas data intelligence pada Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC). Dengan dukungan data dari BPS, analisis lalu lintas di JMTC akan menjadi jauh lebih kaya dan mendalam.
Di sisi lain, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan bahwa big data lalu lintas yang dikumpulkan Jasa Marga setiap harinya adalah aset yang sangat berharga. Data tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas statistik nasional, terutama dalam mengukur kontribusi sektor transportasi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Amalia menjelaskan bahwa jalan tol berfungsi sebagai pengungkit aktivitas ekonomi yang sangat krusial. "Jalan tol menggerakkan konektivitas antarwilayah. Oleh karena itu, data yang kami kumpulkan menjadi sangat kritis dan mendesak untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yang terjadi setiap triwulan," jelasnya.
Menariknya, Amalia mengungkapkan bahwa saat ini data yang tersedia telah mampu mencakup sekitar 70 persen dari total arus lalu lintas jalan tol. Hal ini memungkinkan BPS untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan terperinci tanpa harus selalu bergantung pada metode survei konvensional yang memakan waktu lama.
Sebagai contoh nyata, Amalia mencontohkan bagaimana denyut ekonomi dapat terbaca jelas melalui data lalu lintas saat pandemi COVID-19 lalu. Ketika aktivitas ekonomi melambat, penurunan volume kendaraan di jalan tol pun terjadi secara signifikan. Ke depannya, integrasi ini juga akan mendorong pengembangan model prediksi dan proyeksi mobilitas masyarakat, sehingga pemerintah dan pelaku usaha dapat mengambil kebijakan berbasis data yang lebih akurat.
