agroplus.co.id – Rencana ambisius pembangunan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, kini tengah menghadapi tantangan serius. Proyek raksasa yang digadang-gadang akan menjadi tulang punggung infrastruktur digital nasional tersebut terpaksa dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena persoalan administratif dan perizinan.
Menanggapi situasi yang memanas ini, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan komitmennya untuk turun tangan langsung. Rosan berencana menjalin komunikasi intensif dengan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat guna mencari jalan tengah agar proyek strategis ini dapat segera berlanjut.

"Saya baru saja kembali, dan rencana selanjutnya adalah berbicara langsung dengan pihak pemerintah provinsi terkait hal ini," ujar Rosan saat memberikan keterangan kepada media pada Kamis (1/10/2026). Langkah mediasi ini diharapkan dapat mencairkan kebuntuan antara investor dan regulator di tingkat daerah.
Pemberhentian sementara ini dipicu oleh temuan bahwa proyek BDx belum sepenuhnya memenuhi persyaratan pembangunan yang ditetapkan. Tidak hanya berhenti pada satu proyek, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memberikan sinyal akan melakukan peninjauan menyeluruh terhadap sejumlah izin proyek pusat data lainnya yang beroperasi di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada mekanisme pengawasan perizinan di tingkat daerah. Ia menyoroti adanya celah dalam proses penerbitan izin yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten.
"Akan ada peninjauan kembali. Mengingat beberapa perizinan dikeluarkan oleh pihak kabupaten, kami berharap pemerintah kabupaten dapat lebih optimal dan ketat dalam melakukan pengawasan langsung di lapangan," tegas Adi Komar.
Sebagai informasi, proyek data center BDx di Jatiluhur ini merupakan proyek berskala masif yang telah memulai tahap konstruksi sejak 22 September 2026. Berdiri di atas lahan awal seluas 8.000 meter persegi dengan rencana pengembangan hingga 11 hektare, fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas daya yang sangat besar, yakni mencapai 640 MW.
Lokasi proyek yang hanya berjarak lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur ini juga mengusung konsep ramah lingkungan. Untuk mendukung operasionalnya, proyek ini akan mengandalkan pasokan listrik dari PLN melalui jaringan nasional dengan fokus pada jalur energi rendah karbon. Selain itu, terdapat rencana kerja sama dengan PJT untuk memanfaatkan skema tenaga air sebagai sumber energi bersih yang berkelanjutan.
Pembangunan pusat data yang diberi kode CGK4 ini direncanakan berlangsung selama tiga tahun. Tahap awal pembangunan difokuskan pada Gedung 1 dengan kapasitas bertahap sebesar 120 MW. Jika tidak menemui kendala berarti, fasilitas ini diharapkan mulai beroperasi pada awal tahun 2027 untuk menjawab lonjakan permintaan teknologi AI di Indonesia. Namun, kini nasib proyek tersebut sangat bergantung pada hasil koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
