agroplus.co.id – Pemerintah Prancis secara mengejutkan mengambil langkah agresif untuk memperkuat dominasinya di sektor pertambangan global. Melalui suntikan dana jumbo mencapai Rp10 triliun, negara tersebut bersiap meningkatkan kepemilikan sahamnya di Eramet, sebuah perusahaan tambang raksasa yang memiliki aset nikel sangat signifikan di Indonesia. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya penyelamatan finansial sekaligus pengamanan pasokan mineral kritis di tengah ketidakpastian pasar global.
Berdasarkan laporan terbaru, pemerintah Prancis yang saat ini memegang 27% saham Eramet berencana mendongkrak kepemilikannya hingga mencapai 49%. Rencana penambahan modal senilai 500 juta euro atau setara dengan Rp10 triliun ini ditargetkan rampung pada kuartal keempat tahun ini. Dalam skema aksi korporasi tersebut, Paris akan menyerap seluruh jatah saham baru sekaligus mengambil alih hak milik keluarga Duval, yang selama ini memegang kendali mayoritas sebesar 37%.

Keputusan ini secara otomatis akan mendilusi porsi kepemilikan keluarga Duval. Kabarnya, tawaran dari pemerintah Prancis ini dianggap sebagai solusi paling cepat dan efektif dibandingkan proposal dari investor eksternal lainnya. Meskipun sempat ada ketertarikan dari konsorsium seperti Orion Critical Mineral Consortium yang didukung oleh Amerika Serikat dan Abu Dhabi, pendekatan pemerintah Prancis dinilai jauh lebih selaras dengan kepentingan strategis negara.
Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar urusan bisnis semata, melainkan misi kedaulatan. Menurutnya, Eramet merupakan aset yang sangat vital bagi ketahanan industri nasional Prancis maupun stabilitas pasokan mineral di kawasan Eropa. Dengan memperkuat kontrol atas Eramet, Prancis berharap dapat mengamankan rantai pasok bahan baku kritis yang selama ini menjadi rebutan kekuatan ekonomi dunia.
Eramet sendiri memiliki jejak operasional yang sangat kuat di Indonesia, khususnya melalui proyek tambang nikel di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Proyek tersebut dikelola melalui kemitraan strategis dengan raksasa industri asal China, Tsingshan. Selain di Indonesia, perusahaan ini juga memiliki konsesi besar di Kaledonia Baru serta operasional litium dan mangan di berbagai negara seperti Argentina, Gabon, Senegal, hingga Amerika Serikat.
Namun, perjalanan Eramet belakangan ini tidaklah mulus. Perusahaan sempat mengalami tekanan finansial yang hebat akibat merosotnya harga mineral dunia serta kebijakan pemangkasan kuota penambangan nikel di Indonesia. Kondisi ini sempat membuat Eramet mencatatkan kerugian pada tahun 2025 dan terpaksa melakukan divestasi atau pelepasan sejumlah aset untuk menstabilkan arus kas.
Selain masalah finansial, Eramet juga sempat diguncang oleh krisis internal terkait tata kelola perusahaan. Perombakan besar-besaran di jajaran direksi, termasuk pemecatan CEO Paulo Castellari dan Direktur Keuangan Abel Martins-Alexandre, sempat menimbulkan tanda tanya di kalangan investor. Kini, dengan masuknya modal besar dari pemerintah Prancis, Eramet diharapkan dapat segera bangkit dan kembali memperkuat posisinya dalam kompetisi global penguasaan mineral kritis.
