agroplus.co.id – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, baru saja mengguncang pasar modal global dengan pengumuman program pembelian kembali saham atau buyback yang nilainya sangat fantastis. Skala dana yang disiapkan oleh produsen chip pemegang takhta kecerdasan buatan (AI) ini begitu masif, hingga jika dikonversikan ke dalam rupiah, jumlahnya mampu menyapu bersih nilai lima perusahaan terbesar yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan laporan terbaru, dewan direksi Nvidia telah menyetujui tambahan otorisasi buyback sebesar US$ 150 miliar. Dengan keputusan ini, total plafon dana yang dialokasikan perusahaan bermarkas di Santa Clara, California tersebut melonjak menjadi US$ 235 miliar. Jika menggunakan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS, maka tambahan dana tersebut setara dengan Rp 2.700 triliun.

Angka ini bukan sekadar angka biasa. Sebagai gambaran betapa besarnya kekuatan finansial Nvidia, dana tambahan tersebut mampu membeli seluruh nilai kapitalisasi pasar dari lima emiten raksasa di Indonesia sekaligus. Kelima emiten tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Jika dijumlahkan, total nilai kapitalisasi pasar kelima perusahaan tersebut mencapai Rp 2.517,6 triliun atau sekitar US$ 140 miliar. Menariknya, dana buyback tambahan Nvidia yang sebesar Rp 2.700 triliun masih menyisakan kelebihan sekitar Rp 182 triliun setelah "memborong" kelima raksasa Indonesia tersebut. Bahkan, jika melihat total otorisasi keseluruhan sebesar US$ 235 miliar (sekitar Rp 4.230 triliun), jumlah itu setara dengan 39 persen dari total nilai seluruh perusahaan yang ada di BEI.
Langkah agresif Nvidia ini mencetak sejarah baru sebagai program buyback terbesar sepanjang sejarah pasar modal Amerika Serikat, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Apple sebesar US$ 110 miliar pada Mei 2024. Saat ini, Nvidia telah bertransformasi menjadi entitas dengan kapitalisasi pasar di atas US$ 5,4 triliun, sebuah angka yang hampir sembilan kali lipat lebih besar dari total nilai seluruh emiten di Indonesia.
CEO Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan bahwa ledakan pertumbuhan perusahaan dipicu oleh transisi global menuju era komputasi terakselerasi dan kecerdasan buatan. Melimpahnya arus kas memungkinkan perusahaan untuk terus berinvestasi pada teknologi mutakhir sekaligus memberikan imbal balik yang besar kepada para pemegang saham melalui dividen dan pembelian kembali saham.
Meski demikian, di balik kemegahan finansialnya, Nvidia juga tengah menjadi sorotan terkait isu pembiayaan sirkular dalam ekosistem AI. Perusahaan diketahui menjalin kemitraan dengan lembaga keuangan Wall Street untuk menjamin pembiayaan pusat data bagi pelanggannya agar tetap mampu membeli chip mereka. Langkah ini diambil guna memastikan rantai permintaan teknologi AI tetap terjaga di tengah persaingan global yang semakin ketat.
