agroplus.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif pada perdagangan sesi pertama, Jumat (9/10/2026). Pasar modal Indonesia berhasil mencatatkan performa yang cukup solid dengan IHSG yang bertengger di level 6.052,51. Kenaikan ini setara dengan pertumbuhan sebesar 21,23 poin atau naik tipis 0,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Namun, di balik penguatan indeks tersebut, terdapat fenomena menarik yang terjadi pada arus modal investor asing. Meski pasar secara keseluruhan bergerak hijau, para investor mancanegara justru masih menunjukkan sikap yang cenderung hati-hati. Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit Sekuritas, aliran dana asing tercatat mengalami defisit atau net sell sebesar Rp32,05 miliar pada sesi I.

Secara mendalam, total nilai pembelian yang dilakukan oleh investor asing mencapai angka Rp1,20 triliun. Di sisi lain, nilai penjualan mereka justru lebih tinggi, yakni menyentuh angka Rp1,24 triliun. Selisih inilah yang memicu keluarnya modal asing dari pasar saham domestik meski indeks sedang mencoba mendaki.
Menariknya, meski secara agregat mereka melakukan penjualan bersih, terdapat sejumlah emiten yang justru menjadi incaran utama para pemain global. PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) muncul sebagai primadona dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp15,94 miliar. Tak ketinggalan, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) juga mendapatkan perhatian besar dengan akumulasi beli sebesar Rp12,80 miliar.
Sektor pertambangan dan perbankan juga tidak luput dari radar koleksi asing. PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) tercatat diborong senilai Rp9,52 miliar, disusul oleh raksasa perbankan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang dikoleksi sebesar Rp9,11 miliar. Selain itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) juga masuk dalam daftar saham yang banyak dikumpulkan dengan nilai Rp8,96 miliar.
Daftar saham yang diburu asing masih berlanjut pada emiten lain seperti PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) senilai Rp6,62 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) sebesar Rp6,48 miliar, dan PT Indosat Tbk. (ISAT) sebesar Rp6,33 miliar. Sementara itu, sektor konsumsi juga terlihat menarik dengan masuknya saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) senilai Rp5,64 miliar dan PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) sebesar Rp5,34 miliar.
Di sisi berlawanan, terdapat beberapa saham yang mengalami tekanan jual masif dari investor asing. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai net sell mencapai Rp27,91 miliar. Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang dilepas senilai Rp21,98 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan nilai penjualan Rp20,63 miliar.
Selain itu, tekanan jual juga terlihat pada saham PT Solusi Kemasan Digital Tbk. (PACK) sebesar Rp15,34 miliar dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) senilai Rp11,19 miliar. Fenomena ini menunjukkan adanya rotasi sektor yang sedang terjadi di pasar, di mana investor asing melakukan aksi ambil untung atau relokasi dana dari saham-saham tertentu ke saham lainnya yang dianggap lebih potensial dalam jangka pendek.
