agroplus.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Fenomena fluktuasi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai apa sebenarnya faktor utama yang membuat mata uang Garuda begitu mudah terguncang oleh pergerakan dolar. Menanggapi kegelisahan tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, akhirnya memberikan penjelasan mendalam mengenai akar permasalahan yang terjadi.
Menurut Destry, salah satu faktor fundamental yang membuat rupiah rentan terhadap tekanan eksternal adalah kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Ia menjelaskan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia secara historis seringkali menghadapi tantangan berupa defisit pada neraca transaksi berjalan ini. Kondisi ini merupakan pola yang umum terjadi, kecuali pada masa pandemi Covid-19 lalu, di mana aktivitas ekonomi global dan domestik sempat melambat secara drastis.

"Indonesia ini adalah negara berkembang. Kita selalu menghadapi defisit transaksi berjalan, kecuali pada masa Covid, di mana saat itu aktivitas ekonomi sedang melemah. Negara dengan kondisi defisit transaksi berjalan cenderung memiliki mata uang yang lebih rentan terhadap guncangan," ujar Destry dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Destry menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah akan jauh lebih kuat apabila didukung oleh arus masuk modal yang bersifat permanen atau investasi jangka panjang. Arus modal yang stabil ini sangat krusial untuk menyeimbangkan posisi transaksi berjalan agar tidak terus-menerus memberikan tekanan pada nilai tukar. Namun, menjaga agar modal asing masuk dalam bentuk investasi jangka panjang tetap menjadi tantangan besar bagi otoritas moneter dan pemerintah Indonesia.
Data terbaru menunjukkan bahwa kondisi defisit transaksi berjalan Indonesia memang sedang mengalami tekanan yang cukup signifikan. Pada kuartal II-2026, Indonesia mencatatkan defisit neraca transaksi berjalan sebesar US$ 12,5 miliar, atau setara dengan 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan lonjakan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan pencapaian pada kuartal I-2026 yang hanya berada di level US$ 3,6 miliar atau sekitar 1% dari PDB.
Jika ditarik garis lurus, lonjakan defisit yang mencapai 3,5 kali lipat ini dipicu oleh beberapa faktor ekonomi makro. Salah satu penyebab utamanya adalah membengkaknya biaya impor minyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Selain itu, meskipun neraca perdagangan non-migas masih mencatatkan surplus, namun nilainya tidak cukup kuat untuk menutupi defisit tersebut. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan impor domestik yang turut menguras cadangan devisa.
Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pelaku pasar dan kebijakan yang tepat dari pemerintah untuk memperkuat struktur ekonomi nasional agar tidak terus bergantung pada arus modal jangka pendek yang mudah keluar-masuk (hot money), yang justru memperparah ketidakstabilan rupiah.
