Agroplus – Industri sektor kaca, keramik, dan silikat di Indonesia kini tengah menjerit. Pembatasan pasokan gas bumi oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) secara signifikan mengancam keberlangsungan produksi, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pengusaha yang sangat bergantung pada gas sebagai sumber energi utama.
Edy Suyanto, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), dengan tegas menyatakan bahwa gas merupakan elemen vital, bahkan disebut sebagai ‘urat nadi’ industri keramik. Ia menekankan, gas adalah sumber bahan bakar utama yang mutlak diperlukan dalam produksi, tanpa ada pengganti yang memadai. Ketergantungan absolut ini menjadikan setiap gangguan pasokan sebagai ancaman langsung terhadap operasional pabrik.

Selain peran krusialnya sebagai energi, biaya gas juga merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam keseluruhan proses produksi keramik. Oleh karena itu, ketika pasokan dibatasi dan, ironisnya, harga cenderung melonjak, tekanan pada biaya operasional menjadi tak tertahankan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu jadwal produksi tetapi juga mengancam profitabilitas dan kelangsungan usaha di sektor ini.
Ironisnya, persoalan pembatasan pasokan ini muncul setelah sebelumnya Presiden Prabowo Subianto memberikan angin segar bagi industri. Presiden telah mengumumkan penurunan harga gas industri dari USD 20 per MMBTU menjadi USD 13 MMBTU, sekaligus menjanjikan kepastian pasokan. Namun, janji tersebut kini dihadapkan pada realitas pembatasan yang menjadi tantangan serius bagi industri.
Oleh karena itu, industri sangat berharap pemerintah dapat segera turun tangan memberikan dukungan dan solusi konkret. Kepastian pasokan dan harga gas yang stabil adalah kunci untuk menjaga roda produksi tetap berputar dan memastikan daya saing industri keramik Indonesia di kancah global. Persoalan krusial ini sempat menjadi sorotan dalam dialog di AutoBizz CNBC Indonesia, yang menghadirkan Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, untuk membahas lebih lanjut kompleksitas pasokan dan harga gas industri keramik.
