agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam ke level 6.298,61. Penurunan ini mencatatkan koreksi sebesar 76,31 poin atau setara dengan 1,20 persen jika dibandingkan dengan angka penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level 6.374,91.
Sejak bel pembukaan pasar berbunyi, sentimen negatif sudah mulai terasa. IHSG dibuka pada level 6.364,98, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Meskipun sempat mencoba melakukan perlawanan dengan menyentuh level tertinggi harian di 6.368,57 pada awal sesi, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang berarti. Tekanan jual yang masif justru membawa indeks merosot hingga menyentuh titik terendah di level 6.287,46.

Dominasi aksi jual terlihat sangat nyata sepanjang hari ini. Dari total ratusan emiten yang diperdagangkan, hanya 198 saham yang berhasil mencatatkan penguatan. Sebaliknya, sebanyak 487 saham mengalami pelemahan, sementara 278 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang signifikan.
Berdasarkan analisis pergerakan intraday, indeks mengalami penurunan yang sangat cepat hanya dalam hitungan menit setelah perdagangan dimulai. Walaupun sempat terjadi upaya rebound tipis ke kisaran 6.340 hingga 6.350 pada pagi hari, IHSG gagal menembus level resistensi sebelumnya. Tekanan jual semakin menguat menjelang tengah hari dan terus berlanjut hingga sesi kedua, yang akhirnya memaksa indeks mencetak level terendah harian. Menjelang penutupan sore hari, indeks sempat bergerak menyamping (sideways) di rentang 6.290 hingga 6.310 sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawah level psikologis 6.300.
Aktivitas transaksi hari ini tergolong sangat ramai. Mengutip data dari Stockbit, volume perdagangan mencapai sekitar 25,3 miliar saham atau setara dengan 253 juta lot. Nilai transaksi yang berputar di pasar mencapai Rp9,69 triliun. Angka volume ini melonjak signifikan, mencapai sekitar 145 persen dari rata-rata volume harian yang biasanya berada di angka 17,44 miliar saham.
Kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor krusial, baik dari dalam negeri maupun global. Di level domestik, investor masih mencermati dampak dari kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026. Keputusan ini merupakan langkah konsisten BI yang telah mempertahankan suku bunga selama tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026.
Namun, tantangan besar justru datang dari pasar global. Lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury, terutama tenor 10 tahun yang menembus level tertinggi sejak hampir dua dekade, menjadi ancaman serius bagi pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ini dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis yang sangat kuat, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran akan inflasi yang kembali naik.
Kondisi ini memberikan tekanan pada indeks dolar dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga. Bagi pasar Indonesia, lonjakan yield global ini berisiko memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan meningkatkan beban utang pemerintah, yang pada akhirnya menciptakan "badai" bagi pergerakan IHSG ke depan.
