Close Menu
    What's Hot

    Aturan Baru Bursa Komoditas Strategis

    22-09-2026 - 08.06

    Investor RI Beralih ke SBN Saat Saham Lesu

    22-09-2026 - 08.02

    Rekor Baru Sukuk Ritel SR025

    22-09-2026 - 05.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Aturan Baru Bursa Komoditas Strategis
    • Investor RI Beralih ke SBN Saat Saham Lesu
    • Rekor Baru Sukuk Ritel SR025
    • IHSG Terperosok Akibat Sektor Energi Melemah
    • Aturan Demutualisasi BEI Batasi Kepemilikan Saham Mayoritas
    • Peluang Emas! Bisnis Bahan Baku F&B Kekinian Makin Moncer
    • Guncangan Pasar! Rupiah & IHSG Terpuruk, Petani Was-was!
    • KPK Sikat Suap HGB: Summarecon Digerebek, Rp106 M Disita!
    Selasa, 22 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan - IHSG Terperosok Akibat Sektor Energi Melemah
    Pangan

    IHSG Terperosok Akibat Sektor Energi Melemah

    22-09-2026 - 05.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Senin (21/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot ke zona merah dengan penurunan sebesar 56,43 poin atau setara dengan 0,88 persen, sehingga mendarat di level 6.384,73.

    Pergerakan indeks sepanjang hari ini sebenarnya sempat menunjukkan optimisme di awal sesi. IHSG dibuka pada level 6.446,90 dan bahkan sempat melesat hingga menyentuh titik tertinggi harian di angka 6.451,33. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif mulai mendominasi pasar, menyeret indeks turun hingga menyentuh level terendah di 6.381,57 sebelum akhirnya ditutup sedikit di atas titik terendah tersebut.

    IHSG Terperosok Akibat Sektor Energi Melemah
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Jika menilik dinamika intraday, IHSG sempat mencoba bertahan di kisaran 6.420-an setelah mengalami tekanan di awal perdagangan. Sempat ada upaya pemulihan yang membawa indeks mendekati level 6.430, namun momentum penguatan tersebut gagal dipertahankan hingga bel penutupan berbunyi. Secara keseluruhan, indeks terkoreksi sekitar 62,17 poin dari posisi pembukaan.

    Berdasarkan data aktivitas pasar, terdapat 372 saham yang mengalami pelemahan, sementara 294 saham tercatat menguat, dan 297 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Transaksi paling aktif terjadi di pasar reguler dengan volume mencapai 239,41 juta lot dan nilai transaksi menyentuh angka Rp10,21 triliun. Sementara itu, pasar negosiasi mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp1,58 triliun.

    Penyebab utama jatuhnya IHSG kali ini bersumber dari sektor energi yang ambruk sebesar 2,2 persen. Selain itu, sektor utilitas juga ikut terseret turun sebesar 1,9 persen, disusul sektor non-kritikal yang melemah 0,8 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi beban berat bagi indeks antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

    Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang mampu memberikan bantalan terhadap koreksi indeks, seperti PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MTEL), dan PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO).

    Menatap pekan ini, para investor diprediksi akan bersikap lebih waspada. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kebijakan suku bunga bank sentral dunia, serta rilis data ekonomi global menjadi faktor utama yang membayangi pasar. Fokus pasar tertuju pada dinamika konflik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ), serta keputusan China terkait Loan Prime Rate.

    Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Sementara secara global, pasar akan memantau data pesanan barang tahan lama dari Amerika Serikat serta kebijakan moneter The Fed di tengah tekanan inflasi dan harga minyak yang masih bertahan di kisaran US$100 per barel. Selain itu, pertemuan diplomatik antara tokoh kunci AS dan China juga menjadi agenda krusial yang dapat mengubah arah sentimen pasar global.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Aturan Baru Bursa Komoditas Strategis

    22-09-2026 - 08.06

    Investor RI Beralih ke SBN Saat Saham Lesu

    22-09-2026 - 08.02

    Rekor Baru Sukuk Ritel SR025

    22-09-2026 - 05.06

    Aturan Demutualisasi BEI Batasi Kepemilikan Saham Mayoritas

    22-09-2026 - 04.50

    Peluang Emas! Bisnis Bahan Baku F&B Kekinian Makin Moncer

    22-09-2026 - 02.06

    Guncangan Pasar! Rupiah & IHSG Terpuruk, Petani Was-was!

    22-09-2026 - 02.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Aturan Baru Bursa Komoditas Strategis

    agroplus.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi telah menetapkan standar baru yang cukup ketat…

    Investor RI Beralih ke SBN Saat Saham Lesu

    22-09-2026 - 08.02

    Rekor Baru Sukuk Ritel SR025

    22-09-2026 - 05.06

    IHSG Terperosok Akibat Sektor Energi Melemah

    22-09-2026 - 05.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.