agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Berdasarkan data terbaru, indeks ditutup melemah signifikan ke level 6.277,04, atau merosot sebesar 107,68 poin atau setara dengan 1,69%.
Kondisi ini terasa sangat kontras jika melihat pergerakan di awal sesi. IHSG sebenarnya sempat menunjukkan optimisme dengan dibuka di level 6.392,34 dan bahkan sempat melesat hingga menyentuh puncak harian di level 6.423,84. Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks justru berbalik arah dan mengalami tekanan jual yang masif sepanjang sesi perdagangan, hingga akhirnya menyentuh titik terendah harian di level 6.258,44.

Secara teknis, grafik perdagangan menunjukkan pola penurunan bertahap. Setelah sempat mencoba bertahan di kisaran 6.390 hingga 6.420, IHSG perlahan tergelincir melewati level psikologis 6.300. Meski sempat ada upaya pemulihan singkat ke level 6.330, tekanan pasar kembali menekan indeks menuju area 6.270 sebelum akhirnya mendarat di level penutupan 6.277,04.
Dominasi sentimen negatif terlihat jelas dari komposisi pergerakan saham. Sebanyak 556 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 148 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sementara itu, sebanyak 259 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Berdasarkan data transaksi, nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp14,39 triliun dengan total volume sebesar 32,18 miliar lot. Dari total tersebut, transaksi pada pasar reguler menyumbang nilai sebesar Rp13,11 triliun dengan volume 306,30 juta lot. Sementara itu, pasar negosiasi mencatatkan transaksi senilai Rp863,69 miliar dengan volume 19,18 juta lot.
Penurunan tajam IHSG ini utamanya dipicu oleh sektor energi yang anjlok hingga 3,9%. Selain itu, sektor real estate turut memberikan tekanan dengan penurunan 2%, disusul sektor utilitas yang melemah 1,5%. Beberapa saham yang menjadi beban berat bagi indeks antara lain PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS). Di sisi lain, upaya penopang indeks datang dari saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Indosat Tbk. (ISAT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN).
Para pelaku pasar kini tengah mencermati sejumlah faktor krusial yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi ke depan. Selain memperhatikan tensi konflik di Timur Tengah, perhatian tertuju pada agenda domestik, yakni Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berlangsung selama dua hari. Keputusan mengenai suku bunga acuan atau BI Rate dijadwalkan akan diumumkan pada Rabu (23/9/2026). Pasar memprediksi BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Selain itu, kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas harga minimum saham serta pelantikan pejabat baru di Kementerian Keuangan juga menjadi sorotan utama investor dalam menentukan langkah investasi mereka selanjutnya.
