agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia tengah mengalami guncangan hebat pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merosot tajam dan masih tertahan di zona merah hingga pertengahan sesi II. Berdasarkan data terbaru hingga pukul 13.37 WIB, indeks berada di level 6.083,68, mengalami koreksi sebesar 63,04 poin atau setara dengan penurunan 1,03%.
Pergerakan indeks hari ini menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Pada pembukaan pasar sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG sebenarnya sempat menunjukkan optimisme dengan dibuka menguat di level 6.154,97. Bahkan, dalam rentang waktu singkat antara pukul 09.00 hingga 09.30 WIB, indeks sempat menyentuh puncak harian di angka 6.179,09. Namun, euforia pagi tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif mulai menghantam pasar, menyeret indeks turun drastis ke area 6.100 sebelum menyentuh pukul 10.00 WIB.

Sempat terjadi upaya pemulihan atau rebound terbatas pada pukul 10.00 WIB, di mana indeks mencoba merangkak naik ke kisaran 6.120 hingga 6.130. Sayangnya, momentum positif tersebut gagal dipertahankan. Memasuki pukul 11.00 WIB, tren penurunan kembali berlanjut secara bertahap. Menjelang akhir sesi, meskipun sempat ada kenaikan tipis di atas level 6.100, IHSG kembali terjun bebas hingga menyentuh titik terendah harian di level 6.079,46. Total nilai transaksi yang tercatat dalam perdagangan ini mencapai Rp6.424,65 miliar dengan volume transaksi sebesar 413,83 juta lot.
Kondisi pasar yang lesu ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Fokus utama investor saat ini tertuju pada hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari rapat The Fed yang dirilis dini hari tadi. Pandangan bank sentral Amerika Serikat yang cenderung hawkish telah memicu penguatan indeks dolar AS dan lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury. Fenomena ini secara langsung memberikan tekanan berat terhadap pasar saham negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, serta menekan nilai tukar rupiah.
Selain faktor The Fed, pasar juga tengah mencermati laporan keyakinan konsumen domestik serta rilis data uang primer Indonesia. Di pasar obligasi global, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002, yakni di angka 5,365%. Meski sempat mengalami penurunan tipis setelah lelang obligasi tenor 10 tahun senilai US$40 miliar mendapatkan permintaan yang kuat, tingginya imbal hasil tetap menjadi ancaman bagi aset berisiko.
Kondisi merah yang dialami IHSG juga sejalan dengan tren bursa saham di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, Kospi Korea Selatan melemah 0,35%, dan S&P/ASX 200 Australia juga terkoreksi 0,4%. Secara keseluruhan, kenaikan imbal hasil obligasi global telah mengalihkan minat investor dari pasar ekuitas ke instrumen pendapatan tetap, yang memperburuk sentimen di pasar saham global hari ini. Melansir laporan agroplus.co.id, para pelaku pasar kini tengah menunggu data klaim pengangguran AS dan risalah Bank Sentral Eropa untuk menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
