agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada penutupan perdagangan pekan terakhir bulan September. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dengan penurunan yang cukup signifikan, yang turut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Berdasarkan data penutupan perdagangan pada Senin (28/9/2026), indeks saham gabungan tersebut anjlok sebesar 1,51% atau terkoreksi sebanyak 94 poin, sehingga mendarat di level 6.147,86.
Kondisi pasar yang memerah ini terlihat jelas dari dominasi pergerakan saham yang melemah. Tercatat sebanyak 532 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 180 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sisanya, sebanyak 81 saham, bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti. Fenomena ini mengindikasikan adanya sentimen negatif yang kuat yang menghantam kepercayaan investor di pasar modal tanah air.

Selain penurunan indeks yang cukup dalam, volume transaksi yang tercatat juga tergolong cenderung sepi. Nilai transaksi harian hanya menyentuh angka Rp 12,58 triliun, dengan melibatkan sekitar 37,37 miliar saham melalui 1,66 juta kali transaksi. Rendahnya aktivitas transaksi ini sering kali menjadi sinyal bahwa pasar sedang dalam fase menunggu atau sedang menghindari risiko akibat ketidakpastian ekonomi.
Penyebab utama dari koreksi tajam ini diduga kuat berasal dari aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing. Investor global mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) yang sangat besar, mencapai Rp 1,13 triliun di seluruh pasar. Jika dirinci, tekanan jual ini berasal dari pasar reguler sebesar Rp 259,83 miliar, sementara tekanan terbesar justru terjadi di pasar negosiasi dan tunai dengan nilai mencapai Rp 871,03 miliar. Aliran modal keluar (capital outflow) yang besar ini menjadi faktor utama yang menarik turun pergerakan IHSG secara drastis.
Aksi jual asing ini tidak hanya memukul indeks secara keseluruhan, tetapi juga menyeret sejumlah saham blue chip dan saham lapis kedua lainnya. Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit, terdapat daftar saham yang menjadi target utama pelepasan oleh investor asing dalam perdagangan Senin tersebut. Meskipun daftar lengkapnya terus bergerak dinamis, tekanan jual pada saham-saham unggulan ini menjadi faktor kunci yang membuat pasar sulit untuk melakukan pemulihan (rebound) dalam waktu singkat.
Para analis menyarankan agar investor tetap waspada dan memperhatikan arah kebijakan ekonomi global serta domestik yang dapat memengaruhi arus modal asing. Menghadapi volatilitas yang tinggi seperti ini, strategi manajemen risiko menjadi sangat krusial bagi para pemegang saham agar tidak terjebak dalam penurunan harga yang lebih dalam.
