agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang sangat impresif menjelang penutupan perdagangan sesi kedua pada Jumat (9/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terbang tinggi dengan kenaikan di atas angka 1 persen, memberikan sentimen positif bagi para investor di penghujung pekan ini.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG berhasil menyentuh level 6.092,50. Angka ini menunjukkan adanya penguatan sebesar 61,22 poin atau tumbuh sekitar 1,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Lonjakan ini juga dibarengi dengan aktivitas transaksi yang cukup masif, di mana volume perdagangan mencapai 303,55 juta lot saham dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp6,85 triliun.

Kenaikan signifikan ini tidak lepas dari performa sektoral yang sangat kuat. Sektor industri menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan sebesar 2,03 persen. Selain itu, sektor material dasar turut menyumbang kenaikan sebesar 1,8 persen, disusul oleh sektor infrastruktur yang merangkak naik 1,3 persen.
Beberapa emiten raksasa turut menjadi pahlawan di balik penguatan indeks hari ini. Nama-nama besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tercatat mampu mengerek posisi IHSG tetap berada di zona hijau. Tak ketinggalan, PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) juga memberikan kontribusi positif bagi pergerakan indeks.
Namun, tidak semua saham bergerak searah dengan indeks. Beberapa emiten justru menjadi penekan gerak IHSG, di antaranya adalah PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO).
Dinamika pasar pada hari ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor domestik dan global. Di tingkat nasional, pelaku pasar tengah memantau data penjualan ritel untuk mengukur sejauh mana pemulihan daya beli masyarakat dapat berlanjut. Selain itu, perkembangan APBN dan progres investasi hilirisasi juga menjadi sorotan terkait kebutuhan pembiayaan negara serta prospek ekspor di masa depan.
Dari sisi global, situasi geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan tidak akan melancarkan serangan ke Iran sebelum pemilu paruh waktu pada November mendatang memberikan sedikit napas bagi pasar. Meski demikian, ketegangan tetap tinggi mengingat ancaman blokade laut terhadap Iran masih terus membayangi pasokan energi dunia.
Kondisi ini diperparah dengan peringatan dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, yang menyebut bahwa harga energi berpotensi tetap tinggi dalam jangka panjang. Keterbatasan kapasitas penyulingan dan risiko gangguan pengiriman di Selat Hormuz diprediksi akan menjaga harga minyak tetap berada di level yang tinggi hingga tahun 2027 mendatang. Kondisi inilah yang membuat investor tetap waspada terhadap volatilitas pasar di masa mendatang.
