agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif pada perdagangan sesi pertama Jumat (9/10/2026). Setelah sempat mengalami tekanan hebat di awal perdagangan, indeks akhirnya berhasil bangkit dan bertengger di zona hijau dengan menguat 0,35% ke level 6.052,51.
Perjalanan IHSG sepanjang pagi ini tergolong cukup dramatis dan penuh fluktuasi. Saat pembukaan pasar, indeks berada di level 6.039,01. Namun, sentimen negatif sempat menyeret indeks hingga menembus level psikologis 6.000, tepatnya menyentuh titik terendah di 5.995,82. Beruntung, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Para investor segera melakukan aksi beli yang mendorong indeks merangkak naik hingga mencapai puncaknya di level 6.059,54 sebelum akhirnya stabil di sesi I.

Berdasarkan data transaksi, aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan volume sebanyak 177,49 juta lot saham. Nilai transaksi yang berputar di pasar mencapai angka yang cukup fantastis, yakni Rp4,08 triliun. Penguatan ini didorong oleh dominasi saham-saham yang bergerak naik, di mana terdapat 332 saham yang menguat, sementara 309 saham lainnya mengalami pelemahan dan 322 saham lainnya cenderung stagnan.
Jika membedah sektor yang menjadi motor penggerak, sektor material dasar tampil sebagai pemimpin dengan kenaikan sebesar 1,07%. Sektor keuangan dan infrastruktur juga turut memberikan kontribusi positif dengan masing-masing mencatatkan kenaikan 0,8%. Beberapa saham "blue chip" yang menjadi pengungkit utama kenaikan indeks antara lain BBRI, TLKM, BBCA, BMRI, dan AMMN. Di sisi lain, pergerakan indeks sempat tertahan oleh pelemahan saham-saham seperti BYAN, MORA, GOTO, ENRG, dan GEMS.
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan ekonomi global. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran, menjadi sorotan utama. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan terhadap Iran demi stabilitas menjelang pemilu paruh waktu telah memberikan sedikit napas bagi pasar, meski risiko blokade laut tetap membayangi. Hal ini berdampak langsung pada harga minyak Brent yang sempat melonjak hingga menembus US$104 per barel.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah memantau data konsumsi domestik Indonesia, terutama angka penjualan ritel untuk mengukur daya beli masyarakat. Meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimistis (di atas 100), tren penurunan tipis dari bulan sebelumnya menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi perlu terus diperkuat.
Di kancah internasional, peringatan dari IMF mengenai potensi harga energi yang tetap tinggi hingga tahun 2027 menambah kewaspadaan investor. Ketidakpastian kebijakan suku bunga dari Bank Sentral Eropa (ECB) serta risiko inflasi global juga menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah gerak IHSG hingga penutupan perdagangan sore nanti.
