agroplus.co.id – Indonesia kini berada di ambang peluang emas untuk menjadi pemain utama dalam peta ekonomi global melalui sektor kelautan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, potensi ekonomi biru atau pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan milik Indonesia dinilai sangat masif. Namun, di balik kekayaan alam yang melimpah tersebut, terdapat tantangan besar yang harus segera diatasi, yakni ketersediaan skema pembiayaan yang mumpuni untuk menggerakkan roda industri pesisir.
Standard Chartered Indonesia memberikan pandangan optimis bahwa posisi geografis Indonesia yang sangat strategis dapat menempatkan negara ini sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dunia. Jika dikelola dengan tepat, sektor kelautan bukan sekadar tentang menangkap ikan, melainkan tentang menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu menyeimbangkan antara keuntungan finansial dan kelestarian alam.

Managing Director sekaligus Head of Coverage Standard Chartered Indonesia, Amit Verma, menekankan bahwa kunci utama untuk membuka gerbang potensi ini adalah sinergi yang kuat. Menurutnya, pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi erat dengan sektor swasta untuk menciptakan iklim investasi yang sehat di wilayah pesisir.
"Untuk mewujudkan potensi tersebut, diperlukan inovasi dalam hal pembiayaan, kemitraan yang solid antara pemerintah dan sektor swasta, serta investasi yang fokus pada rantai nilai yang berkelanjutan," ujar Amit Verma dalam forum International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta.
Verma menambahkan bahwa inovasi industri dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi magnet bagi investor. Dengan adanya dukungan pendanaan yang tepat, sektor kelautan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, sekaligus memastikan ekosistem laut tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Senada dengan hal tersebut, aspek konservasi menjadi poin krusial yang tidak boleh diabaikan. Meizani Irmadhiany, Senior Vice President sekaligus Executive Chair Konservasi Indonesia, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi biru harus memiliki parameter dampak ekologis yang jelas. Ia menegaskan bahwa ekonomi biru tidak akan mencapai titik maksimal jika pertumbuhan ekonomi justru merusak lingkungan.
"Ekonomi biru Indonesia hanya akan tumbuh secara sehat jika upaya konservasi dan skema pembiayaan berjalan beriringan," tegas Meizani.
Salah satu sektor yang diprediksi akan sangat diuntungkan dari skema pembiayaan berkelanjutan ini adalah akuakultur, khususnya budidaya rumput laut. Sektor ini membutuhkan suntikan modal yang besar agar dapat dikembangkan dalam skala industri yang luas namun tetap memperhatikan kaidah lingkungan. Dengan dukungan finansial yang terukur, komoditas laut Indonesia diharapkan mampu bersaing di pasar internasional sekaligus menjaga kesehatan laut Indonesia dalam jangka panjang.
