agroplus.co.id – Kilau batu mulia yang selama ini menjadi simbol kemewahan dan status sosial kini tengah mengalami masa sulit. Harga berlian alam dilaporkan merosot tajam hingga menyentuh titik terendah dalam dua dekade terakhir. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri perhiasan global akibat kombinasi antara banjir pasokan stok lama dan gempuran teknologi baru.
Berdasarkan data terbaru dari platform perdagangan Rapaport Group, harga rata-rata berlian dengan bobot 1 karat kini berada di angka US$3.898 atau setara dengan Rp69,7 juta. Jika dibandingkan dengan tahun 2021, angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 51%. Pada masa puncaknya di tahun 2021, harga rata-rata berlian masih bertengger di angka US$8.007 atau sekitar Rp143,2 juta per karat.

Dua Faktor Utama Penyebab Kejatuhan Harga
Ada dua faktor utama yang menjadi biang kerok di balik meredupnya harga berlian alam ini. Pertama adalah masalah kelebihan pasokan. Selama masa pandemi Covid-19, produksi berlian tambang tidak berjalan optimal, namun sisa stok yang menumpuk justru menciptakan ledakan pasokan di pasar saat kondisi ekonomi mulai pulih pada periode 2023 hingga 2024.
Faktor kedua, yang dianggap sebagai ancaman eksistensial, adalah maraknya penggunaan berlian hasil laboratorium (lab-grown diamonds). Berlian jenis ini memiliki karakteristik kimia, fisik, dan visual yang hampir identik dengan berlian hasil tambang, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Penelusuran di pasar internasional menunjukkan perbedaan harga yang sangat mencolok. Sebuah berlian laboratorium dengan kualitas tinggi bisa dibanderol hanya sekitar US$450 (Rp8 juta), sementara berlian alam dengan spesifikasi serupa bisa mencapai US$3.200 (sekitar Rp57 juta). Selisih harga yang mencapai 90% ini membuat konsumen, terutama generasi muda, mulai beralih ke berlian sintetis. Data menunjukkan bahwa penggunaan berlian lab pada cincin tunangan melonjak drastis hingga 239% sejak tahun 2020.
Dampak Global dan Upaya Penyelamatan Industri
Kondisi ini memberikan pukulan telak bagi negara-negara produsen dan pengolah berlian. India, yang menguasai hampir 90% pasar pemotongan dan pemolesan berlian dunia, mengalami penurunan ekspor yang signifikan. Di sisi lain, China kini muncul sebagai kekuatan baru yang mendominasi produksi berlian laboratorium dunia, dengan kontribusi lebih dari 60% pasokan global.
Menanggapi situasi ini, para raksasa industri mulai mengambil langkah darurat untuk menstabilkan harga. De Beers, salah satu pemain terbesar di industri ini, telah mengumumkan penghentian produksi di beberapa tambang utama, termasuk tambang Venetia di Afrika Selatan, untuk mengurangi tekanan pasokan di pasar.
Meski harga batu berlian sedang jatuh, konsumen perlu memahami bahwa harga perhiasan secara keseluruhan tidak serta-merta menjadi murah. Hal ini dikarenakan harga perhiasan juga sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga logam mulia seperti emas dan platinum, serta biaya kerajinan tangan yang tinggi.
Para ahli juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati jika menganggap berlian sebagai instrumen investasi utama. Karena setiap batu memiliki karakteristik unik, likuiditas berlian di pasar sekunder cenderung rendah, dan harga jual kembalinya seringkali jauh di bawah harga beli ritel. Bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan dari tren ini, para analis lebih menyarankan untuk melirik saham perusahaan ritel perhiasan yang mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.
