agroplus.co.id – Kondisi pasar keuangan global tengah berada dalam fase ketidakpastian yang tinggi akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi dengan Arab Saudi telah mengirimkan gelombang kejutan ke berbagai instrumen investasi, mulai dari pasar saham hingga komoditas energi dunia. Situasi ini memaksa para pelaku pasar untuk bersikap waspada terhadap potensi gangguan rantai pasok global yang dapat memicu inflasi lebih lanjut.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Indeks sempat merosot tajam hingga menyentuh level psikologis 5.800, yang memicu kekhawatiran akan adanya aksi jual masif oleh investor asing. Namun, berkat aksi beli pada sejumlah saham unggulan, IHSG berhasil melakukan perlawanan dan memangkas pelemahan tersebut. Perdagangan ditutup di level 5.925, atau hanya terkoreksi tipis sebesar 0,17%.

Meski pasar saham menunjukkan sedikit ketahanan, nilai tukar Rupiah bergerak sangat terbatas. Mata uang Garuda tercatat menguat tipis 0,06% ke posisi Rp 17.885 per Dolar AS. Fluktuasi yang minim ini menunjukkan bahwa pasar sedang dalam mode "wait and see" atau menunggu kejelasan dari arah kebijakan moneter global serta perkembangan situasi di zona konflik.
Sentimen paling krusial saat ini justru datang dari sektor energi. Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan drastis menyusul serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap wilayah Arab Saudi. Serangan ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas pasokan minyak mentah dunia. Sebagai salah satu produsen minyak terbesar, gangguan di wilayah tersebut dapat menyebabkan kelangkaan pasokan yang berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi global.
Dampaknya terlihat jelas pada harga minyak Brent yang kini telah menembus angka fantastis, yakni USD 106 per barel. Kenaikan harga minyak yang mendekati atau bahkan melampaui ambang batas USD 100 per barel ini menjadi sinyal bahaya bagi ekonomi global, terutama bagi negara-negara importir energi. Lonjakan harga energi biasanya akan diikuti oleh kenaikan biaya transportasi dan logistik, yang pada akhirnya akan menekan daya beli masyarakat.
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik ini terus berlanjut dan menyasar infrastruktur vital minyak, maka volatilitas pasar akan semakin tidak terkendali. Investor kini tengah memantau dengan saksama bagaimana respons komunitas internasional terhadap eskalasi ini. Ketidakpastian geopolitik ini diprediksi akan terus menjadi penggerak utama pasar dalam beberapa pekan ke depan, membuat pergerakan IHSG dan nilai tukar Rupiah tetap rentan terhadap guncangan eksternal.
