Close Menu
    What's Hot

    Investor Asing Kabur dari Bursa Indonesia

    30-09-2026 - 05.06

    Indra Kenz Bebas Bersyarat Korban Menanti

    30-09-2026 - 05.02

    Rupiah Tembus Rp 18000 Waspada Risiko Ini

    30-09-2026 - 02.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Investor Asing Kabur dari Bursa Indonesia
    • Indra Kenz Bebas Bersyarat Korban Menanti
    • Rupiah Tembus Rp 18000 Waspada Risiko Ini
    • Nasib APBN 2027 Kini Resmi Disahkan
    • Mandiri Gas Pol Salurkan KUR Triliunan Rupiah
    • Misteri Nasib Rupiah Menuju Akhir 2026
    • Rupiah Terancam Tembus Rp18200 per Dolar
    • Strategi Cuan Saat Rupiah dan IHSG Anjlok
    Rabu, 30 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Bunga Kredit Sulit Turun Akibat Praktik Ini
    Pangan

    Bunga Kredit Sulit Turun Akibat Praktik Ini

    28-09-2026 - 20.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Persoalan mengenai tingginya suku bunga kredit di Indonesia tampaknya masih menjadi teka-teki besar yang menghambat pertumbuhan ekonomi di sektor riil. Meski berbagai kebijakan moneter telah diambil, masyarakat dan pelaku usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masih mengeluhkan sulitnya penurunan bunga kredit perbankan. Fenomena ini memicu sorotan tajam dari Komisi XI DPR RI yang mencium adanya praktik tidak sehat di sektor perbankan.

    Dalam rapat kerja bersama Bank Indonesia (BI), anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Muhammad Kholid, mengungkapkan temuan mengejutkan saat melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah. Ia menemukan bahwa salah satu penyebab utama mengapa bunga kredit sulit ditekan adalah karena adanya praktik pemberian bunga khusus atau special rate kepada deposan atau institusi tertentu.

    Bunga Kredit Sulit Turun Akibat Praktik Ini
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Menurut Kholid, praktik special rate ini menyebabkan bank-bank harus berebut dana dengan biaya yang sangat mahal. Ketika perbankan harus mengeluarkan biaya tinggi untuk menghimpun dana (cost of fund), maka secara otomatis mereka akan menetapkan suku bunga kredit (lending rate) yang tinggi pula agar tetap mendapatkan margin keuntungan. Kondisi inilah yang membuat transmisi kebijakan moneter tidak tersampaikan dengan baik kepada pelaku UMKM.

    "Masalahnya bukan hanya soal kredit UMKM yang stagnan, tetapi ada masalah pada biaya dana (funding) yang mahal. Bank-bank saling berebut dana karena masih adanya praktik special rate dari institusi atau deposan besar yang belum ditertibkan," ujar Kholid dalam rapat tersebut. Ia mendesak agar Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) segera membahas bagaimana kebijakan moneter dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh para pelaku UMKM.

    Senada dengan Kholid, anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Nasdem, Thoriq Majiddanor, juga menyoroti ketimpangan pertumbuhan kredit yang terjadi. Ia mencatat adanya anomali di mana likuiditas perbankan disebut cukup, namun distribusinya sangat tersegmentasi. Hal ini berdampak pada pertumbuhan kredit yang tidak merata antara sektor korporasi dan UMKM.

    Data menunjukkan adanya jurang yang lebar antara pertumbuhan kredit korporasi yang melonjak hingga 22,10 persen, berbanding terbalik dengan pertumbuhan kredit UMKM yang hanya tumbuh sangat lambat di angka 1,62 persen. Jiddan menekankan bahwa perbankan seolah masih terjebak dalam persaingan memperebutkan dana besar, sehingga mengabaikan penyaluran kredit ke sektor akar rumput.

    "Jangan sampai upaya memperdalam pasar uang tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat karena lending rate tetap tinggi. Perbankan masih sibuk berebut funding, sehingga dampaknya pertumbuhan kredit UMKM sangat minim," tegasnya.

    Situasi ini menjadi tantangan serius bagi otoritas moneter dan pengawas perbankan. Jika praktik pemberian bunga khusus kepada deposan besar terus dibiarkan tanpa regulasi yang ketat, maka target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor UMKM akan sulit tercapai. Masyarakat kini menanti langkah nyata dari regulator untuk menertibkan praktik tersebut agar bunga kredit dapat segera turun dan lebih inklusif bagi seluruh lapisan pelaku usaha.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Investor Asing Kabur dari Bursa Indonesia

    30-09-2026 - 05.06

    Indra Kenz Bebas Bersyarat Korban Menanti

    30-09-2026 - 05.02

    Rupiah Tembus Rp 18000 Waspada Risiko Ini

    30-09-2026 - 02.06

    Nasib APBN 2027 Kini Resmi Disahkan

    30-09-2026 - 02.02

    Mandiri Gas Pol Salurkan KUR Triliunan Rupiah

    30-09-2026 - 00.06

    Misteri Nasib Rupiah Menuju Akhir 2026

    30-09-2026 - 00.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Investor Asing Kabur dari Bursa Indonesia

    agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menghadapi guncangan hebat pada perdagangan sesi pertama hari Selasa…

    Indra Kenz Bebas Bersyarat Korban Menanti

    30-09-2026 - 05.02

    Rupiah Tembus Rp 18000 Waspada Risiko Ini

    30-09-2026 - 02.06

    Nasib APBN 2027 Kini Resmi Disahkan

    30-09-2026 - 02.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.