Miris! Anak Gaza Belajar di Tenda, Asa Tetap Menyala
Agroplus – Ratusan ribu anak di Jalur Gaza kini kembali merasakan bangku sekolah, sebuah pemandangan yang mengharukan setelah hampir tiga tahun pendidikan mereka terenggut oleh konflik berkepanjangan. Namun, kembalinya mereka ke "kelas" jauh dari ideal; sebagian besar harus belajar di bawah tenda-tenda darurat atau di antara puing-puing bangunan yang hancur, tanpa fasilitas dasar seperti meja dan kursi, sementara bayang-bayang kekerasan masih terus mengintai.

Momen ini menjadi simbol ketahanan dan keinginan kuat untuk bangkit di tengah kehancuran. Menurut Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina, sekitar 541.000 siswa memulai tahun ajaran baru pada 19 September. Angka ini mencerminkan tekad kuat untuk melanjutkan hidup di tengah segala keterbatasan. Namun, laporan UNICEF mengungkapkan fakta yang memilukan: hampir 98% bangunan sekolah di Gaza mengalami kerusakan parah sejak Oktober 2023. Akibatnya, sekitar 700.000 anak berusia 4 hingga 17 tahun telah kehilangan akses pendidikan tatap muka formal selama hampir tiga tahun terakhir.
Bagi Rana Totah (30), seorang ibu dari dua putra, momen Sabtu pagi saat ia menggandeng anak-anaknya menuju sekolah sementara di Al-Katiba, Kota Gaza, bukan sekadar hari pertama sekolah. Ini adalah simbol kembalinya rutinitas dan harapan yang telah lama hilang akibat perang sejak Oktober 2023. "Jujur, hari ini adalah hari yang indah bagiku. Bahkan terasa seperti Idul Fitri," tutur Totah kepada Al Jazeera, seperti dikutip dari agroplus.co.id. Ia bercerita bagaimana ia menyiapkan anak-anaknya dengan antusiasme tinggi, memastikan mereka tidur lebih awal demi menyambut hari belajar. Selama masa pengungsian, Totah berupaya menjaga pendidikan keempat anaknya melalui inisiatif sukarelawan, namun kebutuhan dasar untuk bertahan hidup seringkali menggeser prioritas pendidikan. "Pendidikan adalah dasar dari segalanya dalam hidup," tegasnya.
Di salah satu tenda yang berfungsi sebagai ruang kelas, Nesma Nahid Abu Asim, seorang guru matematika, dengan sabar mengajar siswa kelas enam yang duduk di atas kasur, dengan buku di pangkuan mereka. "Pendidikan adalah hak bagi setiap siswa," ujarnya, sembari menjelaskan bahwa banyak siswanya datang tanpa alat tulis, buku pelajaran, apalagi meja dan kursi. Meskipun demikian, bagi sebagian siswa, kondisi ini tetap lebih baik daripada tidak belajar sama sekali. Osama Alayleh (11), misalnya, mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali ke sekolah, meskipun harus belajar di tenda. "Yang penting adalah kita belajar. Saya senang dengan tahun ajaran ini. Saya harap ini berlanjut tanpa masalah," katanya penuh harap.
Situasi serupa terlihat di Sekolah Ahbab Shujayea, di mana lebih dari 300 siswa belajar tanpa meja dan kursi, bahkan menggunakan potongan kardus sebagai alas menulis. Direktur sekolah, Inaam al-Batreekhi, menyuarakan kekhawatirannya akan masa depan: "Kita bisa belajar hari ini, kita bisa duduk di tanah hari ini. Tapi besok, ketika hujan datang, kita tidak akan bisa melakukannya." Sekolah-sekolah darurat ini memang menjadi penyelamat sementara bagi anak-anak Gaza. Para guru dan orang tua berharap agar ruang belajar sementara ini segera digantikan oleh sekolah yang lebih aman dan permanen, dilengkapi fasilitas dasar yang layak, agar siswa yang telah kehilangan hampir tiga tahun masa pendidikan mereka dapat mengejar ketertinggalan dan membangun kembali masa depan mereka.
