agroplus.co.id – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara terbuka melayangkan undangan kepada para investor global untuk menanamkan modalnya di jantung ibu kota. Dalam upaya memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global, Pramono memaparkan sejumlah sektor strategis yang siap dikolaborasikan dengan pihak swasta, mulai dari pengembangan ekonomi kreatif hingga solusi infrastruktur perkotaan.
Pernyataan ambisius ini disampaikan Pramono dalam acara High Tea Reception yang diselenggarakan oleh East Ventures bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Balai Kota, baru-baru ini. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Jakarta tidak lagi sekadar pusat administrasi, melainkan magnet ekonomi yang menawarkan peluang tanpa batas bagi para pemilik modal.

Pramono menyebutkan bahwa Jakarta sangat terbuka untuk menjalin kemitraan strategis. Ia secara khusus mengapresiasi peran East Ventures sebagai mitra yang selama ini berperan penting dalam menjembatani pertumbuhan perusahaan rintisan (startup), pengembangan talenta lokal, hingga penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jakarta.
"Jakarta adalah kota yang sangat terbuka untuk investasi di berbagai bidang. Kami dengan senang hati membuka pintu kerja sama seluas-luasnya," ujar Pramono sebagaimana dikutip dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta.
Salah satu daya tarik utama yang ditawarkan adalah sektor ekonomi kreatif. Pramono menyoroti bagaimana Jakarta telah bertransformasi menjadi pusat kegiatan berskala internasional. Mulai dari gelaran konser musisi kelas dunia hingga ajang maraton internasional, semuanya menjadi mesin penggerak ekonomi yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa integrasi kota yang inklusif mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang dinamis.
Namun, Pramono tidak hanya menawarkan sektor yang "manis". Ia justru menawarkan peluang investasi pada sektor-sektor krusial yang menjadi tantangan besar bagi warga Jakarta, yakni transportasi, polusi udara, dan pengelolaan limbah.
Di sektor transportasi, tantangan utama terletak pada tingginya mobilitas penduduk dari wilayah penyangga (Bodetabek). Untuk mengurai kemacetan, Pemprov DKI terus memperluas layanan transportasi umum, termasuk penguatan armada Transjabodetabek. Upaya ini telah membuahkan hasil dengan adanya kenaikan penggunaan transportasi umum sebesar 15 persen. Meski demikian, Pramono mengakui bahwa Jakarta masih menghadapi tantangan besar dalam manajemen mobilitas perkotaan.
Persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah manajemen sampah. Dengan produksi sampah mencapai 9.000 ton setiap harinya, Jakarta membutuhkan solusi teknologi tinggi. Pemerintah daerah kini tengah menyiapkan pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di tiga lokasi strategis.
Selain itu, Jakarta telah mengoperasikan fasilitas pengolahan sampah modern seperti Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan. Melalui kombinasi teknologi dan program pemilahan sampah dari sumbernya, Pramono optimis Jakarta akan memiliki sistem pengelolaan limbah yang mandiri.
"Target kami jelas, pada tahun 2028, Jakarta diharapkan sudah mampu mengatasi persoalan pembuangan sampah secara tuntas," pungkasnya. Dengan berbagai proyek strategis ini, Jakarta siap menyambut era baru sebagai kota global yang tangguh dan berkelanjutan.
