agroplus.co.id – Kondisi pasar modal yang sedang mengalami tekanan tidak lantas membuat para investor kawakan kehilangan arah. Di tengah fluktuasi indeks yang membuat banyak pelaku pasar merasa cemas, sosok yang dijuluki sebagai "Warren Buffett Indonesia", Lo Kheng Hong, justru memberikan pandangan optimis mengenai sektor-sektor yang layak dilirik.
Dalam sebuah kesempatan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Lo Kheng Hong membeberkan strategi investasinya dengan menyoroti tiga sektor utama yang dianggap memiliki fundamental kuat dan daya tahan tinggi. Menurutnya, kunci utama dalam berinvestasi adalah mencari sektor yang mampu menghasilkan laba besar dan memiliki permintaan pasar yang stabil.

Sektor pertama yang menjadi primadona dalam radar investasi Lo Kheng Hong adalah perbankan. Ia menekankan bahwa kekuatan sektor ini terletak pada kemampuan mereka mencetak laba bersih yang sangat fantastis. Ia memberikan perbandingan yang mencolok, di mana tiga bank besar di Indonesia mampu membukukan laba bersih mencapai angka Rp60 triliun.
"Jika kita membandingkan dengan bidang usaha lainnya, hampir tidak ada perusahaan di sektor lain yang mampu menyamai angka laba sebesar itu. Itulah alasan mengapa perbankan tetap menjadi sektor yang paling menarik bagi saya," ungkapnya.
Selain perbankan, Lo Kheng Hong juga memberikan perhatian khusus pada sektor komoditas batu bara. Menurutnya, batu bara tetap menjadi tulang punggung energi dunia karena efisiensi biayanya. Ia menjelaskan bahwa negara-negara dengan populasi besar seperti China dan India masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama.
Ia juga memberikan analisis kritis mengenai transisi energi. Meski energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin terus didorong, Lo Kheng Hong melihat adanya tantangan teknis dan biaya yang sangat besar. Sebagai contoh, untuk menghasilkan daya listrik yang setara dengan satu PLTU, dibutuhkan lahan yang sangat luas jika menggunakan tenaga surya. Belum lagi masalah ketergantungan pada cahaya matahari dan biaya penyimpanan energi yang mahal. Oleh karena itu, ia menilai PLTU batu bara masih menjadi solusi energi yang paling realistis dan dibutuhkan secara global.
Sektor ketiga yang tidak kalah penting adalah komoditas kelapa sawit atau CPO. Lo Kheng Hong menyebut kelapa sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib. Hal ini dikarenakan tanaman ini hanya bisa tumbuh optimal di wilayah tropis, yang menempatkan Indonesia dan Malaysia pada posisi strategis di pasar dunia.
Permintaan terhadap kelapa sawit tidak hanya terbatas pada minyak goreng, tetapi juga merambah ke berbagai produk turunan lainnya, mulai dari kebutuhan industri kosmetik hingga bahan baku manufaktur lainnya. Kombinasi antara keterbatasan wilayah tanam dan tingginya permintaan global menjadikan sektor perkebunan ini sebagai mesin pencetak uang yang menjanjikan.
Dengan kombinasi sektor perbankan yang kuat secara finansial, batu bara yang dominan secara energi, serta kelapa sawit yang unggul secara komoditas, Lo Kheng Hong memberikan peta jalan bagi para investor untuk tetap tenang dan fokus pada nilai fundamental di tengah ketidakpastian pasar.
