Close Menu
    What's Hot

    Strategi Cuan Lo Kheng Hong Saat Pasar Lesu

    08-11-2026 - 02.06

    Penyebab Utama Rupiah Terus Melemah

    08-11-2026 - 02.02

    Gelombang Baru Emiten Siap Melantai di Bursa

    08-11-2026 - 00.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Strategi Cuan Lo Kheng Hong Saat Pasar Lesu
    • Penyebab Utama Rupiah Terus Melemah
    • Gelombang Baru Emiten Siap Melantai di Bursa
    • Misteri Transaksi Tiga Saham Disorot BEI
    • Mebel Besi Lokal Siap Kuasai ASEAN
    • Ekonomi RI Melaju Di Luar Ekspektasi
    • Mantan Menteri Singapura Borong Saham Wilmar
    • Empat BPR Resmi Merger Jadi Satu Entitas
    Minggu, 8 November 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Penyebab Utama Rupiah Terus Melemah
    Pangan

    Penyebab Utama Rupiah Terus Melemah

    08-11-2026 - 02.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat tengah menjadi sorotan tajam para pelaku pasar. Meskipun wacana perubahan status pasar saham Indonesia oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) sempat memicu kepanikan di bursa domestik, ternyata faktor tersebut bukanlah ancaman utama yang merongrong stabilitas mata uang Garuda.

    Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, mengungkapkan bahwa sentimen negatif terkait MSCI sebenarnya tidak memiliki dampak fundamental yang signifikan terhadap pelemahan rupiah jika dibandingkan dengan faktor geopolitik global. Menurutnya, dinamika geopolitik memiliki pengaruh yang jauh lebih masif dalam menentukan arah aliran modal asing di Indonesia.

    Penyebab Utama Rupiah Terus Melemah
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Irman menjelaskan bahwa jika situasi geopolitik dunia membaik, para pemodal asing atau active fund akan tetap antusias menanamkan modalnya di pasar saham Indonesia. Namun, sebaliknya, ketika tensi geopolitik memanas, investor cenderung melakukan aksi jual dan menarik dana mereka keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets).

    Sebelumnya, kekhawatiran mengenai penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market oleh MSCI sempat mengguncang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini memicu aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp16,5 triliun dengan total aksi jual saham mencapai Rp95,98 triliun.

    Meski demikian, Irman menegaskan bahwa keluarnya modal dari pasar saham tidak secara otomatis menjadi penyebab utama depresiasi rupiah. Berdasarkan studi yang dilakukannya, setiap aliran modal keluar sebesar US$100 juta dari pasar saham hanya memberikan dampak depresiasi sekitar Rp11 hingga Rp12. Selain itu, investor sering kali melakukan rotasi aset terlebih dahulu ke instrumen lain yang lebih rendah risiko di dalam negeri sebelum benar-benar membawa uang mereka keluar dari Indonesia.

    "Dampak dari MSCI ini mungkin sebelum keputusan final terjadi, kami perkirakan hanya terbatas pada arah pergerakan pasar saja," ujar Irman. Para investor diprediksi masih akan bersikap wait and see hingga pengumuman resmi MSCI pada Juni 2027 mendatang.

    Lantas, apa musuh sebenarnya? Irman menunjuk faktor geopolitik sebagai ancaman ganda. Ketegangan di wilayah Timur Tengah, misalnya, dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Hal ini memicu inflasi global yang memaksa bank sentral dunia untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).

    Kondisi ini membuat investor lebih memilih menyimpan uang mereka di aset-aset aman (safe haven) di negara maju seperti Amerika Serikat, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS. Lebih berbahaya lagi, jika arus modal keluar menyasar pasar obligasi negara, dampaknya akan jauh lebih fatal bagi rupiah. Keluarnya modal dari surat utang akan meningkatkan imbal hasil (yield), yang kemudian memperbesar rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara dan meningkatkan profil risiko keuangan Indonesia di mata dunia.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Strategi Cuan Lo Kheng Hong Saat Pasar Lesu

    08-11-2026 - 02.06

    Gelombang Baru Emiten Siap Melantai di Bursa

    08-11-2026 - 00.06

    Misteri Transaksi Tiga Saham Disorot BEI

    08-11-2026 - 00.02

    Mebel Besi Lokal Siap Kuasai ASEAN

    07-11-2026 - 23.06

    Ekonomi RI Melaju Di Luar Ekspektasi

    07-11-2026 - 23.02

    Mantan Menteri Singapura Borong Saham Wilmar

    07-11-2026 - 20.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Strategi Cuan Lo Kheng Hong Saat Pasar Lesu

    agroplus.co.id – Kondisi pasar modal yang sedang mengalami tekanan tidak lantas membuat para investor kawakan…

    Penyebab Utama Rupiah Terus Melemah

    08-11-2026 - 02.02

    Gelombang Baru Emiten Siap Melantai di Bursa

    08-11-2026 - 00.06

    Misteri Transaksi Tiga Saham Disorot BEI

    08-11-2026 - 00.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.