agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia diprediksi akan kembali bergairah dalam waktu dekat. Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah perusahaan telah bersiap untuk melakukan aksi korporasi besar-besaran, mulai dari melantai di bursa melalui Penawaran Umum Perdana (IPO) hingga menerbitkan instrumen utang berupa obligasi dan sukuk.
Hingga data per 6 November 2026 tercatat, terdapat sembilan perusahaan yang saat ini tengah mengantre untuk melakukan pencatatan saham perdana atau IPO. Menariknya, tren calon emiten baru ini menunjukkan pergeseran fokus sektor yang cukup signifikan. Sektor kesehatan atau healthcare menjadi primadona yang mendominasi daftar antrean tersebut.

Dari total sembilan calon emiten yang masuk dalam daftar pipeline, sebanyak empat perusahaan atau sekitar 44,4 persen berasal dari sektor kesehatan. Selain itu, sektor bahan baku (basic materials) dan energi masing-masing menyumbang dua perusahaan, sementara sektor keuangan menyumbang satu perusahaan. Menariknya, sektor-sektor seperti teknologi, properti, hingga barang konsumsi justru belum terlihat dalam daftar antrean IPO kali ini.
Jika meninjau dari besaran asetnya, para calon emiten ini memiliki profil yang beragam. Lima perusahaan masuk dalam kategori aset skala menengah dengan nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tiga perusahaan lainnya merupakan pemain skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar, sementara satu perusahaan lainnya masih berada di skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Klasifikasi ini merujuk pada ketentuan POJK Nomor 53/POJK.04/2017.
Tidak hanya soal saham, geliat pasar modal juga terlihat dari rencana penerbitan surat utang. Sebanyak 19 perusahaan tengah bersiap untuk menerbitkan total 29 emisi obligasi dan sukuk. Sektor infrastruktur dan keuangan menjadi penggerak utama dalam rencana penerbitan instrumen utang ini. Secara rinci, terdapat lima perusahaan dari sektor infrastruktur, empat perusahaan dari sektor keuangan, serta tiga perusahaan dari sektor bahan baku dan energi yang tengah bersiap.
Selain itu, sektor lain seperti industri, properti, serta transportasi dan logistik juga turut mengisi daftar rencana penerbitan obligasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendanaan jangka panjang melalui instrumen utang masih sangat tinggi di berbagai lini industri.
Sebagai catatan tambahan, hingga periode tersebut, BEI telah mencatat sebanyak 156 emisi yang berasal dari 67 penerbit dengan total nilai mencapai Rp157,73 triliun. Sementara itu, untuk aksi korporasi rights issue, tercatat ada 16 emiten yang telah sukses menerbitkan saham baru dengan total nilai mencapai Rp37,35 triliun, dan masih ada satu perusahaan dari sektor properti yang masuk dalam daftar rencana rights issue mendatang.
Kondisi ini memberikan sinyal positif bagi para investor bahwa dinamika di Bursa Efek Indonesia tetap terjaga, meskipun terjadi konsentrasi sektor tertentu pada gelombang IPO kali ini.
