agroplus.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah berada dalam situasi yang cukup mengkhawatirkan. Mata uang Garuda dilaporkan terus mengalami tekanan hebat akibat dominasi penguatan dolar AS yang kian tak terbendung di pasar global. Kondisi ini membuat posisi rupiah bergerak di kisaran angka psikologis yang cukup tinggi, yakni menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, meskipun sempat terjadi sedikit pergerakan positif sebesar 0,03% yang membawa rupiah ke posisi Rp18.040/US$ pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), tren pelemahan sebenarnya masih sangat terasa. Hal ini menyusul pelemahan signifikan sebesar 0,25% yang terjadi pada penutupan perdagangan sebelumnya. Fenomena ini sejalan dengan penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Hingga pagi hari, indeks tersebut terpantau naik ke level 101,802.

Menanggapi situasi ini, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI), Firman Mochtar, memaparkan sejumlah faktor fundamental yang menjadi pemicu utama. Salah satu faktor krusial adalah melonjaknya imbal hasil (yield) US Treasury yang kini telah tumbuh melampaui angka 5 persen. Kenaikan imbal hasil ini membuat investor global cenderung mengalihkan dana mereka kembali ke Amerika Serikat untuk mencari keamanan dan keuntungan yang lebih pasti.
Kondisi tersebut secara otomatis mengubah persepsi para investor terhadap pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Minat untuk menanamkan modal di negara berkembang cenderung menurun karena risiko yang dianggap lebih tinggi dibandingkan aset di AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS melonjak tajam, yang pada gilirannya terus mendongkrak indeks dolar ke level yang lebih tinggi.
"Dampaknya adalah indeks mata uang dolar terhadap negara-negara maju sudah menguat. Ketika dolar menguat, maka secara otomatis mata uang negara berkembang akan ikut melemah, tidak terkecuali Indonesia," jelas Firman dalam keterangannya di Jakarta.
Selain faktor eksternal dari pasar keuangan Amerika Serikat, rupiah juga menghadapi tekanan dari sisi domestik. Firman menyoroti adanya dinamika terkait pengumuman MSCI mengenai diskusi pasar saham Indonesia untuk menjadi Standalone Market. Perubahan status atau kebijakan dalam klasifikasi pasar ini turut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Kombinasi antara tekanan global akibat penguatan dolar dan tekanan domestik akibat isu aliran modal keluar (capital outflow) menciptakan badai sempurna bagi nilai tukar rupiah. Para pelaku pasar kini tengah memantau dengan saksama kebijakan moneter selanjutnya, baik dari Bank Indonesia maupun Federal Reserve, guna memitigasi dampak lebih lanjut dari volatilitas mata uang yang sedang terjadi.
