agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa positif pada penutupan perdagangan terbaru. Indeks tersebut berhasil menguat 0,39% dan mendarat di level 5.948. Meskipun terdapat 342 saham yang mengalami pelemahan, namun kekuatan 291 saham yang menguat mampu menopang pergerakan pasar.
Aktivitas perdagangan sepanjang hari berlangsung cukup intens dengan volume transaksi mencapai sekitar 259,48 juta lot. Jika dikonversi ke dalam nilai nominal, total transaksi yang mengalir di pasar modal mencapai angka fantastis, yakni Rp8.054,97 miliar atau setara Rp8,05 triliun.

Sektor properti menjadi motor utama penggerak kenaikan IHSG kali ini dengan lonjakan mencapai 2,09%. Selain itu, sektor keuangan turut memberikan kontribusi positif dengan kenaikan 0,7%, disusul oleh sektor konsumer non-kritikal yang tumbuh 0,4%. Beberapa saham yang menjadi pengungkit kenaikan indeks antara lain adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang menjadi pemberat indeks seperti VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS).
Sentimen Global yang Menjadi Sorotan
Meskipun IHSG menunjukkan tren positif, pasar keuangan global masih dibayangi oleh ketidakpastian. Salah satu faktor yang memberikan angin segar bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah melemahnya indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil (yield) US Treasury. Indeks dolar AS turun 0,37% ke level 102,18, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun turun menjadi 5,217%. Pelemahan ini dipicu oleh penurunan harga minyak dan meredanya tekanan jual di pasar obligasi, yang berpotensi mendorong aliran modal asing masuk ke pasar domestik.
Selain itu, perhatian investor tertuju pada laporan terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF). IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh 3,1% pada tahun 2026, sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ada optimisme bahwa ekonomi global akan kembali menguat ke angka 3,4% pada tahun 2027. Meski demikian, IMF memperingatkan risiko inflasi global yang diprediksi naik menjadi 4,7% pada 2026, terutama akibat gejolak harga energi akibat konflik geopolitik.
Menanti Data Penting dari China dan AS
Pasar juga tengah menantikan rilis data ekonomi krusial dari China, yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) dan neraca perdagangan untuk periode September 2026. Data ini sangat vital bagi Indonesia mengingat posisi China sebagai mitra dagang utama. Jika impor China meningkat, hal ini akan menjadi sinyal positif bagi permintaan ekspor produk Indonesia.
Terakhir, mata dunia tertuju pada Amerika Serikat yang akan merilis data inflasi September 2026. Data ini akan menjadi kompas bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika angka inflasi menunjukkan tren kenaikan, pasar mengantisipasi kemungkinan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga, yang dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global.
