agroplus.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kembali menunjukkan tren koreksi pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Setelah sempat bertahan di zona hijau, indeks mengalami tekanan yang membuatnya harus merosot dan meninggalkan level psikologis penting di angka 6.000.
Berdasarkan data penutupan pasar, IHSG mencatatkan penurunan tipis sebesar 10,17 poin atau setara dengan 0,17 persen. Indeks akhirnya ditutup pada level 5.925,98. Meskipun penurunan ini tergolong moderat, hilangnya daya tahan indeks di atas angka 6.000 menjadi perhatian bagi para pelaku pasar yang tengah memantau stabilitas tren jangka menengah.

Jika menilik komposisi pergerakan saham di lantai bursa, terlihat adanya dinamika yang cukup kontras. Tercatat sebanyak 334 saham berhasil menguat, sementara 290 saham lainnya mengalami pelemahan. Di sisi lain, terdapat 168 saham yang bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga sama sekali. Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan hari ini tergolong cukup ramai dengan total volume transaksi mencapai 365,11 juta lot. Nilai transaksi yang berputar di pasar pun menyentuh angka fantastis, yakni Rp10,75 triliun.
Menariknya, di tengah pelemahan indeks, aliran dana investor asing justru menunjukkan arah yang berbeda. Alih-alih melakukan aksi jual besar-besaran secara keseluruhan, investor asing terpantau melakukan aksi beli bersih (net buy) dengan total nilai mencapai Rp561,60 miliar di seluruh pasar.
Jika dibedah lebih mendalam, aktivitas beli asing ini didominasi oleh transaksi di pasar negosiasi dan pasar tunai yang mencapai Rp555,71 miliar. Sementara itu, di pasar reguler, investor asing hanya melakukan pembelian bersih sebesar Rp5,9 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya strategi penempatan dana yang cukup spesifik dari para pemain besar di luar negeri.
Namun, meskipun secara agregat terjadi net buy, tekanan jual dari investor asing pada beberapa emiten tertentu justru menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan IHSG. Beberapa saham unggulan terpantau masuk dalam daftar antrean jual asing (net foreign sell) yang cukup masif. Fenomena ini menciptakan tekanan jual yang cukup kuat pada saham-saham tertentu, sehingga meskipun banyak saham yang menguat, bobot indeks secara keseluruhan tetap tertekan.
Para analis menyarankan agar investor tetap waspada terhadap volatilitas pasar dalam beberapa hari ke depan. Fokus pasar saat ini tertuju pada kemampuan indeks untuk kembali menguji level 6.000 serta bagaimana arah aliran dana asing akan bergerak pada sesi perdagangan berikutnya. Penguatan pada sektor-sektor tertentu diharapkan mampu menjadi penopang agar IHSG tidak terperosok lebih dalam ke zona merah.
