agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau masih tertahan di zona merah hingga pertengahan sesi II. Berdasarkan data terbaru hingga pukul 13.37 WIB, IHSG berada di level 6.083,68, mengalami pelemahan sebesar 63,04 poin atau merosot sekitar 1,03%.
Koreksi tajam ini terjadi di tengah volume transaksi yang mencapai 413,83 juta lot dengan nilai transaksi menyentuh angka Rp6.424,65 miliar. Penurunan ini dipicu oleh tekanan hebat di beberapa sektor utama, di mana sektor infrastruktur menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan anjlok 2,9%. Tak hanya itu, sektor energi juga ikut terseret turun sebesar 1,6%, disusul oleh sektor material dasar yang melemah 1,4%.

Beberapa saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi beban berat bagi pergerakan indeks antara lain adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS). Di sisi lain, upaya penguatan indeks coba ditopang oleh pergerakan saham PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Apollo Global Interactive Tbk. (APOL), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).
Sentimen pasar global menjadi faktor kunci yang membayangi perdagangan hari ini. Fokus investor tertuju pada arah kebijakan moneter global, terutama setelah rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari Bank Sentral AS (The Fed) yang diterbitkan dini hari tadi. Selain itu, laporan mengenai keyakinan konsumen di Indonesia juga menjadi poin yang dinantikan.
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sikap hawkish The Fed, penguatan indeks dolar AS, serta lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury. Fenomena ini secara langsung memberikan tekanan pada pasar saham dan nilai tukar rupiah. Selain itu, rilis data klaim pengangguran Amerika Serikat dan risalah Bank Sentral Eropa juga akan menjadi indikator penting bagi investor dalam menilai prospek suku bunga dan aset berisiko ke depan.
Sebelumnya, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun sempat melonjak hingga level 5,365%, angka tertinggi sejak April 2002. Meskipun sempat mengalami penurunan tipis setelah lelang obligasi tenor 10 tahun senilai US$40 miliar mendapatkan permintaan kuat, fluktuasi yield ini tetap menjadi ancaman bagi aset di pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia.
Kondisi ini sejalan dengan tren bursa saham di Asia yang juga bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, Kospi Korea Selatan melemah 0,35%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,4%. Secara keseluruhan, ketidakpastian ekonomi global dan penyesuaian imbal hasil obligasi AS menjadi tantangan besar bagi pemulihan IHSG dalam waktu dekat.
