agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia tengah mengalami guncangan hebat pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam yang cukup mengejutkan para pelaku pasar. Berdasarkan data perdagangan intraday sesi kedua, indeks merosot lebih dari 1,02 persen, sebuah angka yang cukup signifikan untuk menggambarkan sentimen negatif yang tengah menyelimuti bursa domestik.
Hingga pukul 15.00 WIB, IHSG tercatat terkoreksi sebanyak 98 poin ke level 5.973,16 atau merosot 1,61 persen. Kondisi ini menandai titik terendah IHSG dalam kurun waktu lebih dari dua bulan terakhir. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak 10 Juli 2026, indeks sempat menyentuh level psikologis 5.900. Volatilitas yang tinggi terlihat jelas dengan rentang pergerakan indeks yang berada di antara level terendah 5.973 hingga level tertinggi di 6.095.

Pemicu utama dari merosotnya indeks ini diduga kuat berkaitan dengan dinamika politik domestik, yakni adanya perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Langkah Presiden dalam menyusun ulang komposisi menteri dan wakil menteri di tengah masa jabatan 2024-2029 ini menciptakan ketidakpastian di mata investor. Salah satu pergeseran besar yang mencuri perhatian adalah pelantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Jenderal TNI Dudung Abdurachman, serta perubahan posisi strategis lainnya seperti Bahlil Lahadalia yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi.
Secara sektoral, sektor barang baku menjadi yang paling terdampak dengan penurunan mencapai 2,72 persen. Disusul oleh sektor konsumer non-primer yang melemah 2,55 persen, serta sektor utilitas yang anjlok 2,31 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi beban berat bagi indeks antara lain BBRI, AMMN, GOTO, BRMS, dan DCII.
Kondisi ini diperparah dengan aksi jual bersih oleh investor asing. Pada penutupan sesi pertama, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp204,30 miliar. Dari total pembelian asing yang mencapai Rp1,70 triliun, angka penjualan asing justru lebih tinggi, yakni menyentuh Rp1,90 triliun. Saham GOTO menjadi salah satu yang paling banyak dilepas asing dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp62,77 miliar. Selain itu, saham CUAN, AMMN, BBRI, dan MDKA juga turut mengalami tekanan jual dari investor mancanegara.
Selain faktor reshuffle kabinet, pelaku pasar juga tengah mencermati berbagai data ekonomi penting lainnya, seperti rilis angka PMI manufaktur, neraca perdagangan, serta tingkat inflasi. Di sisi global, ketidakpastian akibat konflik perang yang masih berlangsung serta dinamika ekonomi Amerika Serikat—termasuk inflasi PCE yang lebih rendah dari ekspektasi dan revisi pertumbuhan ekonomi AS—turut memberikan tekanan tambahan bagi pasar saham di Indonesia.
