agroplus.co.id – Emiten manufaktur kemasan plastik, PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC), tengah menyiapkan langkah strategis besar untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Perusahaan yang bergerak di sektor pengemasan ini berencana melakukan aksi korporasi ganda, yakni melalui skema rights issue (Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I) sekaligus melakukan pembelian kembali atau buyback saham dalam jumlah yang cukup signifikan.
Rencana ambisius ini mencakup penerbitan hingga 2 miliar lembar saham baru. Langkah ini diambil sebagai upaya perusahaan untuk memperkokoh fondasi finansial guna mendukung ekspansi bisnis di masa mendatang. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, manajemen EPAC harus mendapatkan restu dari para pemegang saham melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada awal November 2026 mendatang.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan menjelaskan bahwa dana yang berhasil dihimpun dari hasil rights issue nantinya akan dialokasikan untuk tiga pos utama. Pertama, perusahaan akan menggunakan dana tersebut untuk belanja modal (capex) guna mendukung pengembangan usaha yang sejalan dengan lini bisnis inti mereka. Kedua, sebagian dana akan dialokasikan untuk melunasi sebagian utang perusahaan, khususnya utang perbankan, demi memperbaiki rasio keuangan. Ketiga, sisanya akan digunakan sebagai tambahan modal kerja.
Penambahan modal kerja ini dinilai sangat krusial bagi operasional harian EPAC. Perusahaan berencana menggunakan dana segar tersebut untuk memastikan ketersediaan bahan baku, memperlancar proses produksi kemasan plastik fleksibel, memenuhi lonjakan pesanan dari pelanggan, hingga memperkuat jaringan distribusi ke pasar yang lebih luas.
Tidak hanya melakukan penerbitan saham baru, EPAC juga menunjukkan kepercayaan diri terhadap nilai perusahaan dengan merencanakan buyback saham. Perusahaan mengalokasikan dana maksimal sebesar Rp20 miliar untuk membeli kembali sahamnya sendiri, dengan jumlah maksimal mencapai 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Proses pembelian kembali ini rencananya akan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan setelah mendapatkan lampu hijau dari RUPSLB, dengan tetap memperhatikan kondisi arus kas dan kebutuhan operasional perusahaan.
Meski rencana ini bertujuan untuk penguatan jangka panjang, pasar merespons kabar ini dengan cukup volatil. Pada perdagangan terbaru, saham EPAC sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam, di mana harga sahamnya terkoreksi hingga 13,95% ke level Rp37 per lembar. Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar perusahaan berada di angka Rp122,23 miliar.
Pihak manajemen menekankan bahwa seluruh rangkaian aksi korporasi ini masih bersifat rencana dan sangat bergantung pada hasil keputusan RUPSLB serta kondisi ekonomi serta regulasi yang berlaku. Investor diharapkan tetap jeli dalam melihat potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan di tengah dinamika pasar yang ada.
