agroplus.co.id – Dunia pasar modal tanah air tengah menyoroti langkah PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengambil tindakan tegas terhadap PT Charnic Capital Tbk (NICK). Perdagangan saham emiten ini resmi dihentikan sementara atau disuspensi, baik di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai, sejak Senin, 21 September 2026. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga saham NICK yang sangat fantastis, yakni meroket hampir 200 persen hanya dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Hingga Kamis, 24 September 2026, status suspensi tersebut masih belum dicabut, yang memicu berbagai spekulasi di kalangan investor. Menanggapi situasi tersebut, manajemen Charnic Capital akhirnya memberikan klarifikasi mendalam mengenai kondisi fundamental dan arah strategis bisnis perusahaan guna menjawab keraguan publik serta permintaan penjelasan dari pihak bursa.

Dalam keterangannya, manajemen NICK memaparkan bahwa struktur bisnis grup mereka saat ini terbagi ke dalam beberapa lini strategis. Selain mengelola penyewaan aset properti perkantoran secara langsung, perseroan juga memiliki portofolio investasi saham di bursa. Lebih lanjut, grup ini didukung oleh tiga anak perusahaan utama, yakni PT Charnic Land Investment yang bergerak di sektor properti, PT Energindo Nusantara di bidang kelistrikan, serta PT Okansa Pacific yang fokus pada sektor green mobility.
Menariknya, manajemen mengungkapkan bahwa strategi besar perusahaan untuk tahun 2026 akan difokuskan pada pengembangan bisnis ramah lingkungan. Melalui PT Okansa Pacific, NICK berencana memperkuat posisi mereka di pasar penyewaan kendaraan listrik (EV). Terkait lonjakan harga saham yang memicu suspensi, manajemen menilai hal tersebut merupakan dampak dari meningkatnya aktivitas bisnis pada dua anak perusahaan, yaitu sektor kelistrikan dan mobilitas hijau.
Terkait laporan keuangan, manajemen memberikan penjelasan mengenai kerugian investasi portofolio efek yang tercatat sebesar Rp33 miliar per 30 Juni 2026. Perusahaan menegaskan bahwa angka tersebut merupakan kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) akibat penerapan metode mark to market dalam laporan keuangan, sehingga sifatnya hanya sementara. Di sisi lain, kinerja operasional tetap menunjukkan angka positif dengan penjualan barang dan jasa mencapai Rp24,9 miliar, yang mayoritas bersumber dari konsolidasi Energindo Nusantara dengan pelanggan utama seperti PLN.
Manajemen juga memastikan bahwa tidak ada masalah hukum yang menjerat perusahaan, anak usaha, maupun jajaran direksi dan komisaris. Meski mengakui adanya dampak pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat situasi geopolitik global terhadap nilai portofolio saham mereka, NICK tetap optimis. Mereka meyakini bahwa kepemilikan saham-saham blue chip dalam portofolio akan pulih dan memberikan keuntungan jangka panjang. Dengan rasio permodalan yang tinggi dan arus kas yang konsisten dari sektor sewa properti serta dividen, perusahaan menyatakan kondisi keuangannya tetap kokoh tanpa kendala operasional yang berarti.
