Close Menu
    What's Hot

    Haji Isam Bidik BYAN: Hartanya Triliunan, Siap Guncang Bursa?

    21-09-2026 - 05.06

    Kejutan Pasar! Asing Pindah Haluan, BMRI Diserbu!

    21-09-2026 - 05.02

    US Treasury Rekor: Rupiah & IHSG Terancam Anjlok?

    21-09-2026 - 02.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Haji Isam Bidik BYAN: Hartanya Triliunan, Siap Guncang Bursa?
    • Kejutan Pasar! Asing Pindah Haluan, BMRI Diserbu!
    • US Treasury Rekor: Rupiah & IHSG Terancam Anjlok?
    • Harga BBM Eropa Mencekik! Petani Waspada, Inflasi Meneror!
    • Macron Lawan Trump: Kedaulatan Prancis di Kanada Dipertaruhkan!
    Senin, 21 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan -
    Pangan

    21-09-2026 - 00.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Petani Ritel: Bibit Warung Ibu, Panen 23.000 Toko!

    Agroplus – Siapa sangka, dari sebuah warung kelontong sederhana di sudut Petojo, Jakarta, sebuah benih bisnis raksasa ditanam yang kelak tumbuh menjadi imperium ritel dengan lebih dari 23.000 toko? Inilah kisah inspiratif Djoko Susanto, sosok di balik Grup Alfamart, yang perjalanannya membuktikan bahwa ketekunan dan visi mampu mengubah bibit kecil menjadi panen raya.

    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Pria bernama asli Kwok Kwie Fo ini, sebelum merajut mimpinya sendiri, sempat mencicipi dunia kerja sebagai teknisi di perusahaan perakitan radio. Namun, panggilan untuk kembali ke akar, membantu usaha keluarga, membawanya pulang ke Toko Sumber Bahagia di era 1960-an. Di sanalah, ia menggembleng diri, mempelajari seluk-beluk manajemen ritel dari dasar: mulai dari berinteraksi langsung dengan pembeli, mengelola persediaan barang, hingga memastikan operasional toko berjalan lancar.

    Awalnya, warung sang ibu menjajakan berbagai kebutuhan pokok seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun, dan rokok. Namun, Djoko melihat potensi besar pada komoditas rokok, lantas memfokuskan usahanya di sektor ini. Strategi tersebut berbuah manis, jaringan grosirnya meluas hingga mencapai 15 toko pada tahun 1987. Kesuksesan inilah yang membukakan pintu takdir, mempertemukannya dengan Putera Sampoerna, pucuk pimpinan PT HM Sampoerna, pada penghujung 1986. Pertemuan itu, menurut Sam Setyautama dalam bukunya ‘Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008)’, menjadi titik balik krusial dalam perjalanan hidupnya.

    Kepercayaan pun diraih. Djoko diamanahi posisi strategis sebagai direktur penjualan PT Sampoerna sekaligus direktur PT Panarmas, distributor rokok Sampoerna. Momen peluncuran Sampoerna A Mild pada 1989 menjadi katalis baginya untuk merintis bisnis ritel modern secara mandiri. Ia mendirikan PT Alfa Retailindo, menyulap salah satu gudang Sampoerna di Jalan Lodan No. 80 menjadi ‘Toko Gudang Rabat’. Inilah cikal bakal transformasi dari warung tradisional menjadi jaringan ritel modern. Toko yang semula hanya berfungsi sebagai pusat distribusi rokok, kini berkembang menjual aneka kebutuhan sehari-hari, menandai babak baru dalam ekspansi bisnisnya.

    Jaringan Toko Gudang Rabat terus merambah pasar, mencapai 32 gerai di berbagai kota pada era 1990-an. Melihat dinamika pasar, format toko kemudian disesuaikan menjadi minimarket, sebuah konsep yang lebih ringkas dan dekat dengan konsumen. Puncaknya, pada 18 Oktober 1999, jaringan ini resmi bertransformasi menjadi Alfa Minimart di bawah naungan PT Sumber Alfaria Trijaya, dengan gerai perdananya berdiri kokoh di Jalan Beringin Raya, Tangerang. Evolusi terus berlanjut, hingga pada 1 Januari 2003, nama Alfa Minimart berganti menjadi Alfamart yang kita kenal saat ini.

    Dari sepetak warung kelontong yang menjadi ladang pembelajaran, kini bisnis yang dipupuk Djoko Susanto telah berbuah manis menjadi Grup Alfamart. Sebuah pohon raksasa dengan lebih dari 23.000 ‘ranting’ toko yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk anak-anak usahanya seperti Alfamidi dan Lawson. Kisah ini bukan sekadar catatan bisnis, melainkan sebuah epik tentang bagaimana ketekunan, visi, dan kemampuan membaca pasar, dapat mengubah bibit sederhana menjadi hutan bisnis yang rindang dan produktif, layak menjadi inspirasi bagi para pengusaha di berbagai sektor, termasuk pertanian, yang bermimpi menumbuhkan usahanya dari nol.


    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Haji Isam Bidik BYAN: Hartanya Triliunan, Siap Guncang Bursa?

    21-09-2026 - 05.06

    Kejutan Pasar! Asing Pindah Haluan, BMRI Diserbu!

    21-09-2026 - 05.02

    US Treasury Rekor: Rupiah & IHSG Terancam Anjlok?

    21-09-2026 - 02.06

    21-09-2026 - 02.02

    Harga BBM Eropa Mencekik! Petani Waspada, Inflasi Meneror!

    21-09-2026 - 00.06

    20-09-2026 - 23.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Haji Isam Bidik BYAN: Hartanya Triliunan, Siap Guncang Bursa?

    Agroplus – Dunia pertambangan dan pasar modal Indonesia kembali dihebohkan dengan manuver bisnis raksasa. PT…

    Kejutan Pasar! Asing Pindah Haluan, BMRI Diserbu!

    21-09-2026 - 05.02

    US Treasury Rekor: Rupiah & IHSG Terancam Anjlok?

    21-09-2026 - 02.06

    21-09-2026 - 02.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.