Agroplus – Bagi para pelaku usaha, khususnya di sektor pertanian Lampung, stabilitas nilai tukar Rupiah tentu menjadi perhatian utama. Bagaimana tidak, fluktuasi mata uang bisa berdampak langsung pada harga pupuk, biaya impor alat, hingga daya saing produk ekspor kita. Menjawab keresahan ini, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, baru-baru ini hadir di Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026), untuk memberikan pencerahan mendalam mengenai faktor-faktor penentu kekuatan mata uang Garuda.
Dalam kesempatan tersebut, Filianingsih Hendarta membeberkan inti dari pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS): hukum dasar penawaran (supply) dan permintaan (demand) valuta asing. "Ini sebetulnya kalau kita bicara nilai tukar, itu sama seperti bicara supply demand," jelasnya. Sederhananya, ketika pasokan dolar di dalam negeri melimpah sementara permintaannya rendah, Rupiah cenderung menguat. Sebaliknya, jika permintaan dolar melonjak saat ketersediaannya terbatas, Rupiah akan tertekan dan dolar menguat.

Lalu, dari mana saja pasokan dolar ini datang? Filianingsih menyebut ekspor sebagai salah satu pilar utama. Setiap kali Indonesia berhasil menjual produknya ke luar negeri, termasuk komoditas pertanian unggulan kita seperti kopi, lada, atau buah-buahan tropis, kita akan mendapatkan devisa, salah satunya dalam bentuk dolar AS. Selain itu, investasi asing, baik yang masuk melalui pembelian surat berharga maupun penanaman modal langsung di sektor-sektor strategis, turut memperkaya cadangan valas kita.
Namun, di sisi lain, ada faktor-faktor yang memicu permintaan dolar. Impor barang dan jasa, yang seringkali tak terhindarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk bahan baku atau teknologi pertanian, menjadi salah satu pendorong utama. Pembayaran untuk impor ini umumnya menggunakan valuta asing. Selain itu, arus modal keluar (outflow) saat investor asing memutuskan untuk melepas asetnya di Indonesia dan memindahkan dananya kembali ke negara asal, juga akan meningkatkan kebutuhan akan dolar.
Filianingsih lebih lanjut menguraikan bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh tiga faktor besar: fundamental, struktural, dan sentimen. Faktor fundamental berkaitan erat dengan kesehatan neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan kita – apakah kita lebih banyak mengekspor atau mengimpor. Sementara itu, faktor struktural adalah cerminan dari keseimbangan pasokan dan permintaan valas dari seluruh pelaku ekonomi, baik domestik maupun asing.
Terakhir, faktor sentimen global memiliki peran yang tak kalah penting. Gejolak geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah, dapat langsung memengaruhi harga komoditas global, termasuk minyak. Kenaikan harga minyak, misalnya, akan meningkatkan permintaan dolar AS untuk pembayaran impor minyak, yang pada gilirannya menekan Rupiah. "Pada saat ada perang di Timur Tengah, minyaknya naik, maka harga US dollar juga akan meningkat," ujarnya, memberikan gambaran nyata bagaimana peristiwa jauh pun bisa berdampak pada kantong petani di Lampung.
Singkatnya, Rupiah akan cenderung menguat saat pasokan dolar meningkat, didorong oleh ekspor yang tumbuh subur dan derasnya investasi asing. Sebaliknya, Rupiah berpotensi melemah ketika kebutuhan dolar melonjak akibat impor yang tinggi atau keluarnya modal asing. Untuk memudahkan pemahaman, Filianingsih mencontohkan, jika kurs turun dari Rp17.000 menjadi Rp15.000 per US$1, itu berarti Rupiah menguat. Mengapa? Karena kita hanya memerlukan lebih sedikit Rupiah untuk mendapatkan satu dolar AS. Pemahaman ini krusial agar kita, khususnya para petani dan pelaku usaha, dapat lebih bijak dalam merencanakan strategi ekonomi ke depan, demi ketahanan ekonomi yang lebih baik. Informasi lebih lanjut mengenai dinamika ekonomi dan pertanian bisa Anda dapatkan di agroplus.co.id.
