Agroplus – Kabar gembira datang dari pasar keuangan. Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan performa yang mengesankan, menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ini tentu menjadi angin segar di tengah dinamika ekonomi global yang kerap bergejolak, memberikan harapan bagi berbagai sektor, tak terkecuali pertanian.
Merujuk data Refinitiv yang dipantau agroplus.co.id, pada penutupan perdagangan Jumat lalu, mata uang Garuda ini terapresiasi 0,11%, mencapai posisi Rp17.630/US$. Pencapaian ini menempatkan rupiah di level terkuatnya dalam 15 pekan terakhir, sebuah indikator stabilitas yang patut dicermati. Meskipun demikian, perjalanan rupiah sepanjang hari itu tidak mulus sepenuhnya. Setelah sempat mengawali perdagangan di zona hijau dengan penguatan 0.23% ke level Rp17.610/US$, penguatannya sedikit terpangkas 20 poin menjelang penutupan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau menguat tipis 0,12% ke posisi 99,026 pada pukul 15.00 WIB. Namun, penguatan rupiah hari itu tak lepas dari ‘warisan’ pelemahan tajam dolar AS pada perdagangan sehari sebelumnya. Kamis lalu, DXY anjlok 0,69%, menciptakan ruang bernapas bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk unjuk gigi.
Mengapa Dolar AS Tertekan?
Ada dua faktor utama yang menjadi biang keladi di balik tekanan dolar AS:
-
Lonjakan Tajam Yen Jepang: Mata uang Negeri Sakura ini melesat lebih dari 2% terhadap dolar AS, mencapai 155,47 yen/US$, mendekati level terkuatnya sejak awal Mei. Lonjakan ini dipicu oleh ekspektasi pasar yang kian kuat akan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September kini diperkirakan mencapai 75%. Anggota Dewan Kebijakan BOJ, Hajime Takata, turut memanaskan spekulasi ini dengan pernyataannya bahwa bank sentral perlu bertindak lebih cepat untuk meredam inflasi. Mengingat Yen adalah salah satu komponen utama DXY, penguatannya secara otomatis membebani indeks dolar AS.
-
Sinyal The Fed yang Melunak: Tekanan terhadap dolar AS semakin bertambah menyusul pernyataan Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller. Ia membuka peluang untuk mempertahankan suku bunga dalam pertemuan bulan ini, asalkan data ekonomi mendatang menunjukkan tanda-tanda meredanya tekanan inflasi. Pernyataan Waller ini sontak mengubah kalkulasi pelaku pasar, mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September dari 59% menjadi 48%. Dengan prospek kenaikan suku bunga yang menipis, aset-aset berdenominasi dolar AS menjadi kurang atraktif, dan inilah yang memberikan ‘angin segar’ bagi rupiah, bahkan saat DXY menunjukkan sedikit penguatan.
Menanti Laporan Tenaga Kerja AS
Kini, sorotan pasar beralih ke laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis Jumat malam waktu Indonesia. Para ekonom memproyeksikan ekonomi AS mampu menciptakan 56.000 lapangan kerja baru pada Agustus, membalikkan kondisi setelah kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli.
Data yang lebih lemah dari perkiraan bisa menjadi ‘pukulan’ lanjutan bagi dolar AS dan semakin menipiskan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Sebaliknya, laporan yang kuat berpotensi kembali memicu ekspektasi pengetatan moneter, yang bisa kembali menopang dolar. Bagaimana pun, pergerakan rupiah dan dolar AS ini akan terus menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi, yang secara tidak langsung juga memengaruhi daya beli dan perencanaan di sektor riil, termasuk pertanian.
(evw/evw)
