Agroplus – Kerajaan bisnis Elon Musk kini tengah menghadapi badai tekanan yang semakin membesar. Setelah sempat digadang-gadang sebagai triliuner pertama dunia berkat lonjakan valuasi SpaceX pasca-penawaran saham perdana (IPO), kini para investor mulai meragukan kemampuan sang miliarder dalam memenuhi janji-janji ambisiusnya, baik di SpaceX maupun Tesla.
Sentimen negatif ini langsung menghantam saham Tesla. Pada perdagangan Kamis, saham produsen mobil listrik ini anjlok 15%, menghapus sekitar US$215 miliar dari kapitalisasi pasarnya. Penurunan drastis ini terjadi setelah Tesla melaporkan pendapatan yang meleset dari ekspektasi pasar dan mencatat arus kas negatif, sebuah kejadian langka dalam dua tahun terakhir. Kekhawatiran investor terhadap belanja besar perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) juga turut memperkeruh suasana.

Dalam paparan kinerja keuangan, Musk bahkan terpaksa mengendurkan target untuk beberapa proyek unggulan Tesla yang selama ini digadang-gadang sebagai mesin pertumbuhan baru. Layanan Robotaxi, misalnya, yang dijanjikan akan merambah seperempat hingga setengah wilayah Amerika Serikat sebelum akhir tahun, kini baru tersedia di tujuh kota. Demikian pula dengan robot humanoid Optimus generasi ketiga yang demonstrasinya tertunda, serta truk listrik Semi yang jadwal produksinya masih samar-samar, hanya disebut akan dimulai "segera" padahal sebelumnya ditargetkan sebelum akhir tahun.
Di sisi lain, tekanan juga tak luput menghantam SpaceX. Setelah IPO dengan harga US$135 per saham dan sempat melambung di atas US$225 beberapa hari setelah debutnya, kini harga saham perusahaan telah terkoreksi hampir 50% dari puncaknya. Bahkan, sempat diperdagangkan di bawah harga IPO, menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar dari level tertinggi. Penundaan uji coba roket Starship pekan lalu, ditambah kekhawatiran berakhirnya masa lock-up saham awal Agustus yang memungkinkan pemegang saham lama menjual kepemilikannya, semakin menambah beban bagi perusahaan antariksa tersebut.
Samer Halawi, seorang konsultan dan mantan eksekutif industri satelit, menyoroti perubahan status SpaceX menjadi perusahaan publik. "Akses terhadap modal kini akan diawasi dengan ketat. Ketika Anda menjadi perusahaan publik, investor mengharapkan imbal hasil. Anda tidak bisa lagi beroperasi seperti sebelumnya," ujarnya kepada The Wall Street Journal, menggarisbawahi ekspektasi yang berbeda dari pasar.
Meski demikian, valuasi kedua perusahaan ini masih tergolong fantastis. Kapitalisasi pasar SpaceX tercatat sekitar US$1,57 triliun, sementara Tesla di angka US$1,26 triliun. Banyak investor masih memberikan kepercayaan tinggi pada kepemimpinan Musk dan visinya dalam menciptakan pasar baru, seperti dominasi Tesla di kendaraan listrik dan kesuksesan SpaceX di bisnis peluncuran roket.
Namun, kesabaran sebagian investor mulai menipis. Dillon Loomis, seorang influencer Tesla, mengkritik kebiasaan Musk dalam menetapkan target yang sulit dipenuhi. "Jika target-target itu masih sangat tidak pasti, sebaiknya jangan diumumkan ke publik. Mengatakannya secara terbuka tetapi kemudian gagal mendekati target hanya akan merugikan perusahaan dan para pendukungnya," tulis Loomis melalui media sosial X, menyuarakan kekecewaan yang dirasakan banyak pihak.
Masa depan SpaceX sendiri sangat bergantung pada keberhasilan pengembangan Starship. Peluncuran yang sempat tertunda karena masalah mesin pendorong roket, kini harus segera beralih dari fase pengujian menjadi sumber pendapatan. Dokumen IPO menyebut Starship akan meluncurkan satelit Starlink generasi terbaru pada paruh kedua tahun ini. Tekanan juga datang dari berakhirnya masa penguncian saham (lock-up) pada 6 Agustus, dua hari setelah laporan keuangan perdana SpaceX sebagai perusahaan publik, yang akan melipatgandakan jumlah saham yang beredar bebas di pasar.
Di tengah gejolak ini, muncul spekulasi menarik: kemungkinan Musk menggabungkan SpaceX dan Tesla menjadi satu entitas yang fokus pada pengembangan AI. Musk sendiri mengakui adanya sinergi yang makin besar antara kedua perusahaan, terutama dalam proyek chip AI di Texas. Namun, ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai kemungkinan merger tidak dapat dilakukan dalam konferensi pers kinerja keuangan dan harus melalui proses yang sesuai.
Dengan berbagai tantangan di depan mata, kerajaan bisnis Elon Musk berada di persimpangan jalan. Kemampuan sang inovator untuk kembali meyakinkan pasar dan merealisasikan janji-janji ambisiusnya akan sangat menentukan arah masa depan gurita bisnisnya yang ambisius.
