Agroplus – Pergeseran signifikan dalam kebiasaan bertransaksi masyarakat Indonesia tak lagi sekadar tren, melainkan sebuah realitas yang semakin mengakar. Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis data mengejutkan yang menunjukkan bahwa penggunaan uang tunai semakin ditinggalkan, digantikan oleh lonjakan transaksi keuangan digital yang masif pada kuartal II-2026.
Menurut catatan BI, volume transaksi pembayaran digital di Tanah Air telah mencapai angka fantastis, yakni 16,07 miliar transaksi. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan impresif sebesar 36,88% secara tahunan (year-on-year/yoy), sebuah bukti nyata perluasan akseptasi pembayaran digital di berbagai lapisan masyarakat.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam pernyataannya pada Rabu (22/7/2026), menyoroti bahwa pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan signifikan pada transaksi melalui internet dan aplikasi mobile, yang masing-masing tumbuh 16,88% (yoy) dan 31,39% (yoy). Namun, bintang utama dari lonjakan ini adalah QRIS, yang mencatat pertumbuhan luar biasa hingga 100,12% (yoy) pada triwulan yang sama.
Perry menjelaskan, kinerja positif QRIS tak lepas dari bertambahnya jumlah pengguna dan merchant yang mengadopsi sistem pembayaran ini. Tak hanya itu, infrastruktur pembayaran ritel nasional, BI-FAST, juga menunjukkan performa cemerlang. Volume transaksi yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1.529 juta transaksi, melonjak 38,09% (yoy), dengan nilai transaksi mencapai Rp3.777 triliun pada kuartal II-2026.
Sebagai tulang punggung sistem pembayaran ritel nasional, BI-FAST memungkinkan transfer antarbank secara real-time selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Layanan ini menawarkan biaya transfer yang sangat terjangkau, maksimal Rp2.500 per transaksi, dengan limit transaksi yang cukup besar hingga Rp250 juta, menjadikannya pilihan favorit bagi banyak kalangan.
Sementara itu, untuk transaksi bernilai besar, BI-RTGS juga mencatatkan pertumbuhan yang solid. Volume transaksi yang diproses mencapai 2,63 juta transaksi, naik 13,03% (yoy), dengan nominal transaksi yang menyentuh angka Rp53.492 triliun, tumbuh 12,66% (yoy) pada triwulan II-2026. Data ini semakin memperkuat indikasi bahwa era pembayaran digital telah tiba, mengubah lanskap keuangan Indonesia secara fundamental.
