Induk Astra Pindah Haluan: RI Ditinggalkan?
Agroplus – Sebuah gelombang perubahan strategis besar tengah menyapu korporasi raksasa Jardine Matheson, induk dari PT Astra International Tbk. (ASII). Perusahaan berusia 194 tahun yang telah lama dikenal dengan jejak bisnisnya yang kuat di pasar negara berkembang, kini mengisyaratkan pergeseran fokus investasi. Lincoln Pan, CEO Jardines dan juga Komisaris United Tractors (UNTR), emiten pertambangan dan alat berat Grup Astra, dalam wawancara dengan Financial Times, mengungkapkan niat grup untuk lebih memusatkan eksposur investasinya di negara-negara maju kawasan Asia-Pasifik. Langkah ini diambil demi menyeimbangkan kembali portofolio mereka yang selama ini sangat condong ke Asia Tenggara.

Pan mengakui bahwa portofolio Jardines saat ini sangat didominasi oleh Indonesia, sebuah kondisi yang ingin mereka ubah. Upaya penyeimbangan ini akan diwujudkan melalui investasi di negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) seperti Australia, yang dinilai menawarkan risiko eksposur yang lebih rendah. Pernyataan ini muncul menjelang hari investor Jardines, di mana perusahaan memaparkan visi strategisnya hingga tahun 2030.
Didirikan sebagai pedagang opium pada tahun 1832 di Tiongkok selatan, Jardines belakangan ini memulai transformasi signifikan dari model pemilik-operator bisnis yang mencakup teknik, konstruksi, ritel, dan hotel, menjadi manajer investasi. Pan, yang ditunjuk sebagai CEO tahun lalu oleh ketua eksekutif Ben Keswick untuk memimpin transformasi ini, telah melakukan serangkaian perubahan. Di antaranya adalah menghapus program graduate trainee yang telah berjalan puluhan tahun, menjual aset yang kurang performa, menyederhanakan struktur modal, serta mengurangi jumlah staf di perusahaan induk.
Meskipun demikian, Pan menegaskan komitmen "100 persen" Jardines untuk mengembangkan Astra, konglomerat Indonesia yang bisnisnya di otomotif, alat berat, dan pertambangan menyumbang hampir setengah dari keuntungan Jardines. Namun, ia menekankan perlunya menyeimbangkan bauran industri berat Jardines dengan perusahaan-perusahaan di pasar negara maju yang membutuhkan modal lebih sedikit. Pan tidak segan menyebut Indonesia sebagai "medan operasi yang menantang," menyoroti insiden pencabutan izin pertambangan anak perusahaan Astra dan penyitaan jutaan hektar lahan oleh pihak berwenang, dengan alasan kerusakan lingkungan. Ia menambahkan bahwa izin tersebut baru pulih setelah proses lobi yang intensif dan melibatkan banyak pihak dari perusahaan Indonesia dan Jardines.
Sinyal perubahan arah investasi Jardines semakin jelas bulan lalu, ketika mereka setuju mengakuisisi I-MED, penyedia radiologi Australia, senilai US$2,4 miliar. Pan menargetkan untuk menyelesaikan sekitar tiga akuisisi serupa dalam empat hingga lima tahun ke depan. Perusahaan akan meninjau kepemilikan aset yang menghasilkan pengembalian kurang dari 7% per tahun, sembari mencari pengembalian minimal 11% untuk investasi baru. Secara keseluruhan, Jardines menargetkan total pengembalian pemegang saham sebesar 9% per tahun selama lima tahun ke depan, dengan upaya mendaur ulang setidaknya US$4 miliar modal pada tahun 2030, tidak termasuk komitmen dari Astra dan anak perusahaan properti Hongkong Land.
Mengenai penjualan aset, Pan menegaskan bahwa "hampir tidak ada aset yang dianggap suci" bagi perusahaan maupun keluarga Keswick. Ia bahkan merujuk pada penjualan sebagian One Causeway Bay, lokasi bersejarah yang dibeli James Matheson pada penjualan lahan pertama di Hong Kong tahun 1841, sebagai bukti keterbukaan mereka. "Mereka terbuka untuk berdiskusi tentang semua bagian bisnis kami," tambah Pan.
Harga saham Jardines telah melonjak 38% dalam 12 bulan terakhir seiring upaya perampingan dan pemfokusan ulang investasi. Namun, gejolak bisnis di Indonesia, seperti pengaduan otoritas Tiongkok terkait kondisi operasi penambang nikel, sedikit mengurangi keuntungan tersebut. Para investor umumnya menyambut baik transformasi ini, yang dianggap meningkatkan transparansi perusahaan yang dulunya buram dengan struktur yang rumit. Namun, beberapa pihak memperingatkan risiko kehilangan fokus bagi perusahaan yang kekayaannya dibangun dari kesepakatan di negara berkembang Asia. Seorang investor veteran bahkan mempertanyakan, "Siapa yang akan tertarik dengan perpaduan bisnis otomotif di Indonesia, layanan kesehatan di Australia, ditambah properti lawas di Hong Kong?"
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Pan menekankan bahwa Jardines terutama menggunakan modal daur ulang, bukan mengumpulkan dana baru, untuk mendanai kesepakatan yang diyakini akan menghasilkan pengembalian lebih tinggi. Ia mencontohkan akuisisi I-MED, yang secara signifikan akan menurunkan biaya pinjaman grup radiologi tersebut dengan mengeluarkannya dari kepemilikan ekuitas swasta, berkat skala, hubungan perbankan, dan "reputasi di Asia" yang dimiliki Jardines. Pergeseran ini menandai babak baru bagi Jardine Matheson, yang kini berada di persimpangan jalan antara warisan masa lalu dan ambisi masa depan.
