Agroplus – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan ketangguhannya di tengah gejolak pasar global. Saat bursa-bursa utama di kawasan Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan, mengalami tekanan signifikan, IHSG justru berhasil ditutup menguat. Fenomena menarik ini memicu pertanyaan di kalangan analis mengenai sentimen apa yang mendorong derasnya aliran dana asing masuk ke pasar modal Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026, IHSG mencatatkan kenaikan impresif sebesar 67,32 poin atau setara 1,1%, bertengger di level 6.173,53. Kinerja positif ini didukung oleh dominasi saham-saham yang menguat, mencapai 363 emiten, berbanding 274 saham yang melemah, dan 328 saham yang bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan juga terpantau sangat dinamis, dengan nilai transaksi mencapai Rp16,32 triliun, melibatkan 24,04 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,99 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar domestik pun ikut terkerek, mencapai Rp10.749 triliun. Sektor perbankan menjadi primadona, menarik perhatian besar dari para investor.

Aliran modal asing menjadi salah satu pilar utama yang menopang penguatan pasar domestik. Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp638,6 miliar di seluruh pasar, dengan saham-saham perbankan menjadi target utama investasi mereka.
Elandry Pratama, seorang analis dari Panin Sekuritas, menyampaikan pandangannya bahwa belum dapat disimpulkan secara langsung adanya rotasi dana besar-besaran dari Jepang atau Korea Selatan menuju Indonesia. Menurutnya, kelesuan pasar di kedua negara tersebut lebih banyak dipicu oleh tekanan yang melanda sektor teknologi global. Meskipun demikian, Elandry tidak menampik adanya potensi global untuk penataan ulang portofolio (portfolio rebalancing) menuju pasar-pasar yang menawarkan valuasi lebih menarik, dan Indonesia termasuk dalam kategori tersebut. "Secara global memang ada potensi portfolio rebalancing ke pasar yang valuasinya lebih menarik," jelas Elandry kepada CNBC Indonesia.
Senada dengan Elandry, Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, juga melihat kemungkinan perpindahan dana ke Indonesia sebagai skenario yang realistis. Ia menyoroti ekspektasi kenaikan suku bunga di Korea Selatan sebagai potensi sentimen negatif bagi pasar saham negara tersebut. Padahal, sepanjang tahun ini, bursa Korea Selatan telah menunjukkan kinerja yang sangat kuat. "Tentu saja bisa terjadi. Pelaku ekonomi di Korea Selatan berencana menaikkan suku bunga, ini akan menjadi sentimen buruk bagi pasar saham mereka yang memang sudah sangat perkasa di tahun ini," tutur Liza.
Sebagai gambaran perbandingan, aksi jual yang melanda pasar Asia-Pasifik pada Jumat semakin dalam, terutama dipimpin oleh pelemahan saham-saham semikonduktor dan teknologi. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 4%, S&P/ASX 200 Australia turun 0,5%, dan indeks CSI 300 China merosot 3,6%. Sementara itu, bursa Korea Selatan libur nasional pada hari tersebut. Tekanan terhadap saham teknologi ini bahkan menjalar hingga ke bursa Eropa. Sejumlah perusahaan semikonduktor raksasa seperti ASML, ASMI, STMicroelectronics, Infineon, dan BE Semiconductor kompak terkoreksi tajam pada awal perdagangan, mencerminkan berlanjutnya sentimen negatif terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan chip secara global.
Di tengah badai yang melanda bursa regional dan global, IHSG berhasil berdiri kokoh, memanen kepercayaan investor asing dan menunjukkan daya tarik fundamentalnya. Ini menjadi sinyal positif bagi prospek investasi di pasar modal Indonesia.
