Agroplus – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dalam perdagangan hari Rabu (24/6/2026), menunjukkan koreksi signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Data dari Refinitiv mencatat, mata uang Garuda ini harus pasrah di zona merah, ditutup melemah 0,50% hingga mencapai level Rp17.925/US$. Ini merupakan pelemahan beruntun selama empat hari perdagangan, menandakan tekanan yang belum mereda terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Sepanjang hari perdagangan, pergerakan rupiah terpantau di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.955 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena rupiah semakin mendekati ambang batas psikologis Rp18.000 per dolar AS, sebuah level yang bisa memicu gejolak lebih lanjut di pasar keuangan dan berdampak pada berbagai sektor, termasuk pertanian yang sangat bergantung pada stabilitas harga impor dan ekspor.

Sementara itu, di panggung global, Indeks Dolar AS (DXY) menunjukkan dominasinya. Indeks yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia ini, tercatat menguat 0,14% ke level 101,547 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan dolar AS secara global ini tak pelak menjadi pemicu utama tertekannya rupiah, menyempitkan ruang gerak mata uang negara berkembang lainnya.
Kekuatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun ini bukan tanpa alasan. Pasar global kini menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang cenderung semakin ‘hawkish’ atau agresif. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, yang merupakan debut bagi Ketua The Fed Kevin Warsh, diinterpretasikan pasar sebagai sinyal kuat bahwa The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Data dari CME FedWatch menggarisbawahi peningkatan tajam ekspektasi ini: peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli melonjak dari 8,5% menjadi 36,3%, sementara untuk rapat September, probabilitasnya meroket dari 29,1% menjadi 69,1%.
Menyikapi tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) di dalam negeri tak tinggal diam. BI terus mengintensifkan upaya stabilisasi rupiah, sekaligus bersinergi dengan pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam gelaran Economic Update CNBC Indonesia 2026, bahkan secara khusus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta menjaga stabilitas mata uang kita dengan mengutamakan penggunaan rupiah dalam setiap transaksi domestik.
Sebagai langkah konkret, BI telah mengimplementasikan kebijakan baru guna menata ulang permintaan valuta asing. Salah satunya adalah penyesuaian ambang batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung (underlying) yang kini diturunkan dari US$25.000 menjadi US$10.000 per individu per bulan. Destry Damayanti menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan bertujuan untuk melarang penggunaan dolar AS, melainkan untuk memperbaiki tata kelola dan mencegah aktivitas spekulatif. "Kami ingin menata ulang permintaan terhadap rupiah. Bukan membatasi dolar AS, namun setiap transaksi harus memiliki underlying. Tanpa itu, potensi spekulasi akan terbuka lebar," tegas Destry, seperti dikutip dari agroplus.co.id.
Oleh karena itu, Destry kembali menekankan pentingnya peran masyarakat. Dengan terus menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama di tanah air, kita secara kolektif berkontribusi pada penguatan dan stabilitas mata uang Garuda yang kita cintai, menjaga daya beli, dan mendukung ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
