Fenomena Cabai ‘Sultan’: BI Ungkap Biang Keroknya!
Agroplus – Pernahkah Anda terkejut saat melihat harga cabai di pasar melampaui harga daging? Fenomena yang kerap membuat dahi mengernyit ini ternyata bukan isapan jempol belaka dan telah menjadi perhatian serius Bank Indonesia (BI). Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, baru-baru ini membuka suara mengenai anomali harga pangan yang sering terjadi di berbagai pelosok negeri ini.

Destry menjelaskan bahwa fluktuasi harga yang ekstrem pada komoditas pangan, termasuk cabai, disebabkan oleh apa yang disebut sebagai volatile food inflation atau inflasi makanan yang bergejolak. "Inflasi itu harus dilihat dari sumbernya. Ada sumber inflasi yang penyebabnya dari pangan, namanya volatile food inflation. Terkait pangan berkaitan dengan ada satu masa namanya harga cabai bisa di atas harga daging," ujar Destry dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Rabu (24/6/2026). Ia bahkan mengakui keheranan publik, "Secara common sense, kok bisa harga cabai di atas daging, memang stoknya enggak ada? Atau bagaimana," menyoroti pertanyaan mendasar yang sering muncul di benak masyarakat dan para pelaku pertanian.
BI, sebagai lembaga yang menjaga stabilitas ekonomi, tidak tinggal diam. Destry menegaskan bahwa pihaknya berperan aktif dalam meminimalisir dampak inflasi pangan yang bergejolak ini. Melalui program kerja sama yang melibatkan 46 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia, pemerintah daerah, dan lembaga setempat, BI berupaya keras untuk mengidentifikasi dan menangani akar masalah inflasi, khususnya di sektor pangan. Ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa gejolak harga cabai tidak terus-menerus membebani masyarakat dan petani.
Dalam skema kerja sama ini, BI bertindak sebagai penasihat strategis, memberikan masukan berharga kepada pemerintah daerah mengenai sumber-sumber inflasi di wilayah masing-masing. "Kita sebagai advisor memberikan masukan kepada pemerintah daerah, kemudian kita juga lihat sumber inflasinya apa di daerah ini. Kalau misalnya pangan, oke, Bank Indonesia bersama-sama dengan yang lain, kita bantu misalnya apakah petani mau kita bantu dengan smart farming atau banyak hal lah misalnya UMKM di sana, kita berdayakan juga," papar Destry. Pendekatan ini menunjukkan komitmen BI untuk tidak hanya memantau, tetapi juga memberdayakan sektor pertanian dan UMKM agar lebih tangguh menghadapi gejolak harga.
Kehadiran BI di daerah-daerah ini, menurut Destry, adalah bagian dari upaya menjaga stabilitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. "Jadi artinya kita jaga stabilitas tapi kan gak berarti kita mengabaikan pertumbuhan. Oleh karena itu, pertumbuhan selain dari kebijakan yang makroprudensial kita jalankan, juga kita jalankan kebijakan ekonomi regional, di mana kita mengoptimalkan keberadaan 46 kantor perwakilan kami di daerah dan 5 kantor cabang di luar negeri," jelasnya. Ini menunjukkan visi BI yang holistik, memadukan kebijakan makro dengan intervensi regional yang spesifik.
Lebih jauh lagi, BI juga memiliki ambisi untuk membawa produk pertanian Indonesia mendunia. Melalui kantor-kantor perwakilan di luar negeri, BI berupaya memberdayakan masyarakat lokal dan mencari potensi produk pertanian untuk "go global". "Kita juga cari kalau ada yang potensi untuk kita bawa go global, kita akan bekerjasama dengan kantor perwakilan kami di luar, untuk bisa mencari kira-kira ada gak buyer di global yang cocok," pungkas Destry. Inisiatif ini tidak hanya membantu petani lokal, tetapi juga mengangkat citra produk pertanian Indonesia di kancah internasional, menunjukkan bahwa cabai dan komoditas lain memiliki potensi lebih dari sekadar bumbu dapur.
