Jepang Bernapas Lega! Inflasi Anjlok, Terendah 4 Tahun!
Agroplus – Kabar gembira datang dari Negeri Sakura. Jepang baru saja merilis data inflasi untuk periode Februari 2026, menunjukkan tren pendinginan yang signifikan. Tingkat inflasi utama negara tersebut tercatat melambat untuk bulan keempat berturut-turut, mencapai titik terendah sejak Maret 2022. Penurunan ini sebagian besar didorong oleh stabilnya harga pangan, sebuah berita yang tentu melegakan bagi sektor pertanian dan konsumen di Jepang.

Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi umum Jepang kini berada di angka 1,3% pada Februari lalu. Angka ini tidak hanya menjadi yang terendah dalam hampir empat tahun terakhir, tetapi juga berada di bawah target Bank Sentral Jepang (BoJ) sebesar 2%. Penurunan ini cukup mencolok dari angka 1,5% pada Januari 2026 dan sejalan dengan ekspektasi pasar yang dihimpun oleh Trading Economics.
Sementara itu, inflasi inti, yang mengecualikan harga makanan segar, juga menunjukkan perlambatan menjadi 1,6% pada Februari. Angka ini sedikit meleset dari perkiraan ekonom sebesar 1,7% dan turun signifikan dari 2% di bulan Januari 2026. Bahkan inflasi yang tidak termasuk harga makanan segar dan energi pun ikut mendingin, tercatat 2,5% dari 2,6% di bulan sebelumnya.
Bank Sentral Jepang (BoJ) sendiri telah memproyeksikan inflasi inti dan "inti-inti" untuk tahun fiskal 2026 (dimulai 1 April) masing-masing sebesar 1,9% dan 2,2%. BoJ optimistis bahwa kenaikan harga konsumen tahunan dapat turun di bawah 2% pada paruh pertama tahun ini, berkat upaya pemerintah dalam meringankan beban biaya hidup dan menstabilkan harga pangan. Komitmen Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menangguhkan pajak makanan sebesar 8% selama dua tahun, yang dijanjikan saat kampanye, menjadi salah satu faktor penting yang diharapkan dapat menahan laju inflasi, khususnya di sektor pangan.
Meskipun demikian, BoJ pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di 0,75%, sambil mewanti-wanti potensi risiko inflasi dari konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi. Stefan Angrick, Kepala Ekonomi Jepang dan Pasar Negara Berkembang di Moody’s Analytics, seperti dikutip dari CNBC International pada Selasa (24/3/2026), menegaskan bahwa "Konflik Timur Tengah adalah kejutan yang tidak diinginkan. Lonjakan harga komoditas akibat guncangan pasokan ini menjadi kabar buruk, terutama bagi negara pengimpor energi dan pangan seperti Jepang." Ia menambahkan, "Meski dampaknya mungkin terbatas jika konflik cepat usai, perang yang berkepanjangan dapat memberikan pukulan yang jauh lebih berat bagi perekonomian."
Di tengah dinamika inflasi ini, perekonomian Jepang sendiri menunjukkan pertumbuhan yang melambat. Pada kuartal keempat tahun lalu, ekonomi Negeri Matahari Terbit ini hanya tumbuh 0,1% secara tahunan, nyaris menghindari resesi teknis, dan melambat dari pertumbuhan 0,6% pada kuartal ketiga 2025. Dengan stabilnya harga pangan yang menjadi salah satu pendorong utama pendinginan inflasi, diharapkan sektor pertanian dapat terus berkontribusi positif dalam menjaga stabilitas ekonomi Jepang ke depan.
