Krisis Hormuz: Pupuk Petani RI Aman? Pupuk Indonesia Buka Suara!
Agroplus – Kabar memanasnya situasi geopolitik di Selat Hormuz, jalur vital distribusi urea global, tentu menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk pertanian. Namun, bagi para petani di Indonesia, ada jaminan kepastian. PT Pupuk Indonesia (Persero) secara aktif memantau dinamika tersebut dan memastikan ketersediaan pupuk di Tanah Air tetap aman terkendali.

Yehezkiel Adiperwira, Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, menegaskan bahwa perusahaan memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang lebih dari memadai. "Di tengah gejolak geopolitik yang terjadi, kami menjamin pasokan pupuk nasional tetap aman, sehingga petani dapat terus berproduksi tanpa perlu khawatir akan ketersediaan pupuk," ujarnya baru-baru ini.
Khusus untuk pupuk urea, Pupuk Indonesia Group memiliki kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Kapasitas ini, khususnya untuk urea, bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik. Secara fundamental, produksi urea nasional sangat kokoh karena bahan baku utamanya, gas bumi, dipenuhi dari pasokan domestik dengan harga dan ketersediaan yang telah diatur oleh Pemerintah. Ini berarti, meskipun Selat Hormuz bergejolak, pasokan urea nasional tidak akan terdampak langsung.
Bukan hanya itu, Pupuk Indonesia juga dikenal sebagai produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kekuatan produksi ini, perusahaan memiliki kapabilitas untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia.
Bagaimana dengan pupuk NPK yang sebagian bahan bakunya diimpor? Pupuk Indonesia telah menerapkan strategi diversifikasi sumber bahan baku strategis. Misalnya, fosfat (P) yang merupakan komponen penting dalam pupuk NPK, diperoleh dari negara-negara di Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) didatangkan dari Kanada dan Laos, yang semuanya berada di luar wilayah konflik Timur Tengah. Langkah ini secara signifikan meminimalkan risiko gangguan pasokan.
Satu-satunya bahan baku yang berpotensi terdampak adalah sulfur (S), yang digunakan untuk memproduksi asam sulfat dalam pembuatan NPK. Sebagian pasokan sulfur memang berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Kuwait. Namun, risiko ini dapat diatasi karena sulfur juga dapat diperoleh dari Kanada dan Kazakhstan. Selain itu, sebagian kebutuhan asam sulfat juga bisa dipenuhi dari sumber-sumber domestik.
Di luar diversifikasi, Pupuk Indonesia juga memperkuat manajemen stok bahan baku, menjaga ketersediaan fosfat, kalium, sulfur, dan asam sulfat pada tingkat yang mencukupi. Upaya antisipatif ini juga mempertimbangkan potensi kenaikan biaya logistik akibat fluktuasi harga minyak dunia. Perusahaan juga terus meningkatkan efisiensi energi dan optimalisasi pemanfaatan bahan baku melalui program revitalisasi industri, termasuk pembangunan pabrik baru dan peremajaan tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan, yang didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.
"Fokus utama kami adalah memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi secara optimal, demi keberlanjutan pertanian Indonesia," pungkas Yehezkiel.
