Mochtar Riady Hibahkan Lahan Rp6 T: Demi Ekonomi Bangsa!
Agroplus – Jakarta – Pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady, membuat langkah mengejutkan dengan menghibahkan lahan seluas lebih dari 30 hektare di Cikarang, Jawa Barat. Aksi filantropis ini ditujukan untuk mendukung program pemerintah dalam penyediaan 3 juta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana membangun 140 ribu unit hunian vertikal di atas lahan tersebut.

Mochtar Riady menjelaskan bahwa keputusannya ini murni sebagai wujud dukungan penuh terhadap visi pemerintah. Ia menegaskan bahwa dirinya, sebagai pelaku industri properti, tidak melihat keuntungan komersial pribadi dari hibah ini. Sebaliknya, ia memandang ini sebagai investasi sosial yang berkontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor perumahan. "Kita tak melihat benefit kita sendiri, tapi kita akan senang sekali melihat kita bisa dukung program pemerintah," ungkapnya di Kawasan Cikarang, pada Senin (9/3/2026).
Menteri PKP, Maruarar Sirait, mengapresiasi hibah lahan yang diperkirakan bernilai fantastis. Lahan seluas 30 hektare tersebut, menurut Maruarar, memiliki nilai estimasi antara Rp 4,5 triliun hingga Rp 6 triliun, mengingat harga pasar tanah di kawasan itu berkisar Rp 15-20 juta per meter persegi. Ini merupakan bentuk nyata kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta dalam mengatasi backlog atau kesenjangan kebutuhan rumah bagi masyarakat Indonesia.
Nantinya, pembiayaan hunian MBR ini akan dilaksanakan melalui kombinasi subsidi APBN dan dukungan perbankan, mulai dari bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga perbankan swasta. Tenor cicilan pun akan diperpanjang hingga 30 tahun, sebuah langkah strategis untuk meringankan beban finansial masyarakat berpenghasilan rendah. "Kita naikkan cicilan rakyat Indonesia menjadi 30 tahun, supaya cicilannya tidak berat," jelas Maruarar.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyebut pembangunan 140 ribu unit hunian dalam satu proyek ini sebagai sejarah baru. Sektor perumahan atau properti, lanjutnya, memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luar biasa terhadap perekonomian nasional. "Kalau dibayangkan itu banyak sekali. Dan multiplier effect akan luar biasa dari penciptaan lapangan kerja, dari segi pemberdayaan masyarakat sekitar, dari peningkatan ekonomi, dan akan menjalankan roda perekonomian," paparnya.
Rosan menambahkan bahwa dampak positifnya tidak hanya terbatas pada wilayah Jawa Barat, melainkan akan meresap ke seluruh pelosok Indonesia, dirasakan oleh jutaan keluarga dan seluruh lapisan masyarakat. Ketua Satuan Tugas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, turut menegaskan bahwa program hunian ini akan membawa dampak besar karena melibatkan lebih dari 180 sektor ekonomi terkait, mulai dari industri properti, konstruksi, hingga rantai pasok bahan bangunan. "Ternyata industri perumahan memiliki dampak ekonomi yang luar biasa, bisa mencapai 1,5 hingga 5 kali lipat dari nilai investasi," pungkas Hashim.
