Agroplus – Pasar minyak global kembali menunjukkan gejolak ringan pada perdagangan Kamis pagi, dengan harga bergerak naik tipis. Kenaikan ini terjadi di tengah tarik-ulur sentimen antara melimpahnya persediaan minyak mentah di Amerika Serikat dan bayang-bayang kekhawatiran serius terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Berdasarkan pantauan data Refinitiv, patokan harga minyak Brent tercatat di level US$71,1 per barel pada pukul 09.20 WIB, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$65,63 per barel. Meskipun terlihat stabil dalam beberapa hari terakhir, pergerakan ini sejatinya menunjukkan adanya tekanan ke atas. Brent misalnya, perlahan merangkak naik dari US$70,85 menjadi US$71,1 per barel, sementara WTI bertahan di kisaran US$65-66 per barel. Bahkan, dalam dua pekan terakhir, Brent sempat menyentuh US$67,42 per barel sebelum kembali menemukan pijakan mendekati US$71.

Namun, momentum kenaikan harga ini sedikit diredam oleh fakta adanya lonjakan signifikan pada stok minyak mentah di Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan bahwa persediaan tersebut melonjak jauh melampaui perkiraan pasar pada pekan terakhir, sebuah kondisi yang dipicu oleh peningkatan volume impor dan penurunan tingkat operasi kilang. Secara teori, situasi ini seharusnya memberikan tekanan ke bawah pada harga, mengingat sinyal pasokan domestik AS yang melimpah dan longgar.
Meski demikian, efek penahan dari lonjakan stok AS tersebut ternyata terbatas. Pasalnya, perhatian utama pelaku pasar global saat ini lebih tertuju pada potensi risiko pasokan yang berasal dari ketegangan geopolitik. Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama, mengingat potensi eskalasi dapat mengganggu kelancaran aliran minyak dari jantung kawasan Timur Tengah. Iran, sebagai salah satu produsen krusial dalam peta energi global, jika mengalami gangguan produksi, tentu akan sangat memengaruhi keseimbangan pasar dunia, terutama bila gejolak meluas hingga ke jalur distribusi energi vital di Teluk.
Menyikapi potensi ancaman ini, para produsen minyak utama dilaporkan telah menyusun strategi antisipasi. Arab Saudi, misalnya, disebut-sebut siap untuk menggenjot produksi dan ekspor minyaknya secara signifikan jika terjadi gangguan pasokan serius dari Iran. Langkah ini diambil sebagai jaring pengaman untuk menjaga stabilitas pasokan global di tengah potensi eskalasi konflik. Selain itu, kelompok produsen besar juga diperkirakan tengah menimbang opsi untuk meningkatkan produksi secara bertahap mulai April mendatang, sebuah langkah proaktif untuk mengantisipasi lonjakan permintaan energi yang lazim terjadi menjelang musim panas di belahan bumi utara.
Dengan pergerakan harga yang relatif sempit, pasar jelas menunjukkan sikap ‘menunggu dan melihat’. Kepastian arah kebijakan serta perkembangan dinamika geopolitik menjadi penentu utama. Selama awan risiko pasokan global belum sepenuhnya sirna, harga minyak diprediksi akan cenderung bertahan di kisaran saat ini, namun dengan tingkat volatilitas yang tetap tinggi, siap bergejolak kapan saja.
Sumber: agroplus.co.id
